Dari Jualan Daun Pisang ke Tanah Suci, Kisah Mbah Painah Menunaikan Haji

|

Di tengah jutaan jemaah haji di Tanah Suci, sosok Mbah Painah mungkin tampak biasa saja. Namun, perempuan berusia 65 tahun asal Wonosobo ini menyimpan kisah perjuangan panjang untuk mewujudkan impian beribadah haji.

Selama lebih dari 35 tahun, Mbah Painah menjalani rutinitas yang hampir tak pernah berubah. Setiap hari ia bangun sekitar pukul 01.30 dini hari untuk membawa hasil tani ke pasar. Setelah pulang menjelang Subuh dan beristirahat sejenak, ia kembali bekerja mengantar daun pisang kepada para pelanggannya.

Daun pisang yang dijualnya digunakan oleh pedagang pecel, penjual bubur, katering, hingga warga yang menggelar hajatan. Untuk mengantarkan pesanan, Mbah Painah terbiasa berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lain, bahkan melewati lima desa dalam sehari.

Karena itulah, ketika keluarga menyarankan agar ia berlatih jalan kaki menjelang keberangkatan haji, jawabannya justru mengundang tawa.

“Saya sudah cukup jalan-jalannya jualan,” katanya dikutip dari berbagai sumber pada Senin (8/6).

Puluhan tahun berjalan kaki sambil memanggul daun pisang ternyata bukan hanya menjadi sumber nafkah keluarga. Dari pekerjaan sederhana itu pula, Mbah Painah menyekolahkan anak-anaknya sekaligus menabung untuk berangkat ke Tanah Suci.

Baca Juga:  Tarif Jasa Kursi Roda di Masjidil Haram Melonjak Dua Kali Lipat Saat Jemaah Membludak

Ia menabung selama 18 tahun. Sedikit demi sedikit uang hasil jualan disisihkan melalui tabungan PKK maupun arisan kampung.

“Kalau ada sisa ya saya kumpulkan,” katanya.

Tak ada investasi besar atau usaha mewah. Hanya kedisiplinan seorang perempuan desa yang percaya bahwa uang kecil yang dikumpulkan terus-menerus akan menjadi jalan menuju cita-cita.

Saat ditanya berapa uang yang biasa ditabung setiap bulan, ia menjawab sederhana.

“Tidak banyak, paling dua ratus ribu,” ujarnya.

Dari uang itulah perjalanan menuju Baitullah dimulai.

Menariknya, keinginan berhaji awalnya bukan datang dari dirinya. Ketika sang suami mengajak mendaftar haji, Mbah Painah sempat menolak karena merasa lebih nyaman tinggal di rumah bersama anak-anak.

Namun sang suami bersikeras. Jika berangkat haji, harus berdua. Akhirnya mereka pun mendaftar bersama.

Waktu terus berjalan hingga nomor porsi semakin dekat. Namun takdir berkata lain. Suaminya yang sejak awal sangat ingin berhaji justru tidak lolos pemeriksaan kesehatan karena penyakit jantung yang dideritanya. Porsi tersebut kemudian dilimpahkan kepada salah satu anak mereka yang kini mendampingi Mbah Painah di Tanah Suci.

Baca Juga:  Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji Kota Bandung 2026: Kloter 02 Sudah Bertolak, Persiapan Gelombang Kedua Terus Dimatangkan

Di Mekah, ketangguhan Mbah Painah kembali terlihat. Ia menjalani tawaf dengan berjalan kaki, begitu pula saat sa’i dan lempar jumrah. Semua dilakukan sendiri tanpa dibadalkan.

“Tidak capek, Mbah?” tanya seorang petugas.

“Tidak,” jawabnya singkat.

Jawaban sederhana itu mengundang tawa. Namun bagi yang mengetahui kisah hidupnya, perjalanan dari Shafa ke Marwah mungkin tak sejauh jalan-jalan desa yang telah ia tempuh selama puluhan tahun.

Bahkan saat ditanya bagaimana perasaannya ketika pertama kali melihat Ka’bah, jawabannya kembali membuat orang tersenyum.

“Senang, biasa-biasa saja,” ungkapnya.

Meski terdengar sederhana, rasa syukur itu sebenarnya tersimpan dalam diam. Saat berada di depan Ka’bah, Mbah Painah lebih banyak mendoakan anak-anak, cucu, dan keluarganya daripada dirinya sendiri.

Di Arafah pun doanya tidak muluk-muluk. Ia hanya berharap anak sulungnya menjadi anak yang patuh kepada orang tua.

Kini setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dijalani, Mbah Painah sudah memikirkan pekerjaan yang selama ini menjadi bagian hidupnya: berjualan daun pisang.

Baca Juga:  Lepas 393 Jemaah Calhaj, Maryono Tekankan Pentingnya Jaga Kesehatan dan Kekhusyukan Ibadah

Usaha itu memang berhenti sementara selama ia berada di Tanah Suci. Namun setelah kembali ke Indonesia, ia berencana melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.

Ketika ditanya apa harapannya setelah menyandang gelar hajjah, Mbah Painah menjawab sambil tertawa.

“Kaya,” jawabnya singkat.

Lalu ia menambahkan kalimat sederhana yang mencerminkan cara pandangnya terhadap hidup.

“Yang penting kaya sehat,” tambahnya.

Bagi Mbah Painah, kesehatan, keluarga, dan kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci adalah rezeki terbesar yang diberikan Allah.

Dari langkah-langkah kecil di jalan desa, Allah akhirnya membawanya sampai ke depan Ka’bah. Perjalanan itu ia tempuh melalui kerja keras, kesabaran, dan setumpuk daun pisang yang setiap hari dipanggulnya.

Meski telah menunaikan ibadah haji, Mbah Painah masih menyimpan satu harapan yang belum terwujud. Ia ingin kembali ke Tanah Suci, kali ini bersama suami yang dulu mengajaknya mendaftar haji.

“Saya ingin umrah bersama suami,” katanya singkat dengan mata berbinar.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran