GUGAH – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat menjadi yang paling terpuruk di kawasan Asia setelah melemah 0,34 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data pasar pukul 09.13 WIB, rupiah spot berada di level Rp17.900 per dolar AS, melemah dibanding penutupan sehari sebelumnya di posisi Rp17.839 per dolar AS.
Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada perdagangan pagi ini. Di bawah rupiah, ringgit Malaysia tercatat turun 0,25 persen, baht Thailand melemah 0,09 persen, yuan China terkoreksi 0,05 persen, dan peso Filipina turun tipis 0,02 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru mampu menguat terhadap dolar AS. Dolar Taiwan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,12 persen, diikuti won Korea Selatan 0,07 persen, yen Jepang 0,04 persen, dolar Singapura 0,02 persen, serta dolar Hong Kong yang naik 0,01 persen.
Meski rupiah tertekan, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia justru bergerak relatif stabil. Indeks dolar tercatat berada di level 99,20, sedikit turun dibandingkan posisi sehari sebelumnya di angka 99,22.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter global dan pergerakan arus modal asing. Kondisi ini juga sejalan dengan sentimen negatif yang mewarnai pasar keuangan domestik, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan pagi.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi global dan sinyal terbaru dari bank sentral AS yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar serta mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.***



Tinggalkan Balasan