Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Pengamat Desak Pemerintah Ambil Langkah Berani

|

GUGAH – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian. Pada perdagangan Selasa (2/6/2026), mata uang Garuda dibuka melemah hingga menyentuh level Rp17.880 per dolar Amerika Serikat (AS), semakin mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama di tengah tingginya kebutuhan devisa untuk membiayai impor dan berbagai kewajiban pembayaran luar negeri.

Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute, Sandri Rumanama, menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk meredam tekanan terhadap rupiah sebelum dampaknya semakin meluas ke sektor riil.

“Kurs dolar AS sudah mendekati Rp18.000. Ini membutuhkan kebijakan yang berani dari pemerintah agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam,” ujar Sandri, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga:  Harga Jual Dolar AS di Sejumlah Perbankan Tembus Rp18.000

Menurutnya, salah satu sumber tekanan terbesar terhadap perekonomian Indonesia saat ini berasal dari tingginya biaya impor minyak dan gas bumi (migas). Besarnya kebutuhan impor energi membuat permintaan dolar AS terus meningkat dan pada akhirnya menggerus cadangan devisa negara.

Sandri menilai pemerintah perlu mengevaluasi kembali kebijakan energi, termasuk mempertimbangkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), guna mengurangi beban subsidi sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor migas.

“Biaya impor migas terus membengkak dan berdampak pada cadangan devisa. Pemerintah perlu mengambil langkah yang berani untuk mengurangi tekanan tersebut, termasuk meninjau kembali kebijakan subsidi energi,” katanya.

Selain faktor impor migas, Sandri juga menyoroti kondisi fiskal pemerintah yang menjadi perhatian pelaku pasar. Defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), ditambah penerimaan pajak yang belum optimal, dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Baca Juga:  Rupiah Loyo ke Rp17.669 per Dolar AS, IHSG Terjun Bebas 2 Persen ke Level 6.186

Menurut dia, jika kondisi tersebut tidak diimbangi dengan upaya peningkatan penerimaan negara dan efisiensi belanja, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Di sisi lain, permintaan terhadap valuta asing juga meningkat akibat sejumlah kebutuhan musiman. Mulai dari pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan, hingga kebutuhan impor bahan baku yang masih tinggi.

“Kebutuhan dolar AS meningkat untuk berbagai keperluan, mulai dari pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, hingga aktivitas impor. Kondisi ini membuat permintaan valas di pasar semakin besar,” jelasnya.

Baca Juga:  Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.515, Ancaman Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan biaya impor dan mendorong kenaikan harga berbagai barang serta jasa, terutama yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat stabilitas fiskal dan menjaga keseimbangan pasokan devisa agar gejolak nilai tukar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Dengan rupiah yang terus bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS, pelaku pasar kini menanti langkah konkret pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran