PR PURWAKARTA — Alun-Alun Pasanggrahan, Purwakarta, berubah menjadi lautan hijau mint sejak jarum jam belum menyentuh angka enam pagi, Minggu, 24 Mei 2026. Sebanyak 2.000 perempuan dari berbagai pelosok Jawa Barat berkumpul, mengikat tali sepatu, lalu berderap menyusuri aspal sejauh 5 kilometer dalam gelaran Fatayat Fun Run 5K. Hajatan ini digelar untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) Fatayat Nahdlatul Ulama yang ke-76.
Di atas kertas, acara ini tampak seperti agenda olahraga santai pengisi akhir pekan. Namun, di bawah tenda utama dan podium VIP, atmosfer yang terbangun justru memperlihatkan potret konsolidasi kekuatan yang solid. Tema yang diusung pun berbunyi mentereng: “Berdaya, Berdampak, dan Mendunia”.
Ketua Fatayat NU Purwakarta sekaligus Ketua Panitia Acara, Hj. Nung Najibah, tak menyangka animo massa sekolosal itu. “Sejak awal pendaftaran dibuka, gelombang pendaftar langsung menembus angka 1.300 orang pelari,” katanya terucap saat ia menyampaikan laporan acara tersebut. Baginya, angka tersebut mencerminkan energi kolektif kader akar rumput yang sedang menyala.
Etalase Politik Kaum Perempuan
Kehadiran para elite dalam acara ini mempertegas bahwa Fatayat memiliki posisi tawar yang tak bisa dipandang sebelah mata dalam kalkulasi sosial-politik regional. Di barisan kursi depan, duduk Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, Anggota DPRD Jawa Barat Humaira Zahrotun Noor, Kapolres Purwakarta AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya, Dandim 0619/Purwakarta, Letkol Arh Fredy Jaguar, Ketua PCNU Purwakarta KH. Ahmad Anwar Nasihin, hingga Ketua MUI Purwakarta KH. Jhon Dien.
Ketua PW Fatayat NU Jawa Barat, Hj. Minyatul Ummah, menyebut pemilihan Purwakarta sebagai pusat perayaan tahun ini berjalan sukses berkat sokongan penuh birokrasi lokal. “Kami sangat mengapresiasi dukungan dari Pemkab Purwakarta. Antusiasme dari pengurus cabang di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat hari ini membuktikan mesin organisasi kita berjalan sangat solid,” kata Hj. Minyatul Ummah.
Sinyal paling benderang datang dari Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia, Farida Farichah. Berbicara di hadapan ribuan massa, Farida yang juga kader tulen organisasi ini, membeberkan dinamika internal Fatayat yang kini kian ekspansif di ruang publik. Organisasi sayap perempuan muda NU ini dinilai sudah berhasil melakukan lompatan besar keluar dari domestifikasi peran tradisional.
Menurut Farida, distribusi kader Fatayat di struktur kekuasaan formal saat ini sudah merata dan signifikan. “Banyak kader kita yang hari ini menempati posisi-posisi strategis di pemerintahan, baik di ranah eksekutif maupun legislatif di berbagai tingkatan,” ujarnya.
Lompatan posisi ini, bagi Farida, adalah bukti sahih bahwa kualitas kepemimpinan perempuan nahdliyin tidak lagi bisa dipandang remeh. “Keberadaan Fatayat sudah diperhitungkan oleh semua kalangan. Kita berhasil mencetak kader yang berkualitas, tangguh, dan membuktikan diri sebagai perempuan hebat. Ini manifestasi konkret dari tema harlah kita,” Farida menambahkan.
Seni dan Doorprize Umroh
Kendati kental dengan nuansa unjuk kekuatan organisasi, panitia tetap mengemas acara dengan pendekatan populer khas subkultur NU. Garis finis lari 5 kilometer bukan akhir dari acara, melainkan pembuka bagi festival budaya. Di bawah panggung utama, delegasi dari berbagai Pengurus Cabang (PC) se-Jawa Barat beseta para pelari berharap nomor kupon yang dipegangnya bisa ditukan dengan berbagai Doorprise hadiah yang telah disiapkan oleh panitia acara.
Atmosfer makin riuh ketika panitia mulai mengundi aneka hadiah hiburan, dengan hadiah utama berupa paket ibadah Umroh. Namun, di luar urusan medali penamat dan hadiah ke tanah suci, pesan dari aspal Purwakarta pagi itu sangat terang: sayap hijau ini sedang bersiap melangkah lebih jauh, keluar dari batas domestik, menuju panggung global.***



Tinggalkan Balasan