Dari Qanun Asasi ke Ranting, Sekretaris PCNU Garut Tekankan Pentingnya Khidmah NU

|

GUGAH – Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut, H. Aceng Hilman Umar Basori, menekankan pentingnya menjaga tradisi mengaji, memperkuat persatuan, dan meningkatkan pengabdian dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pesan tersebut disampaikan saat pembinaan organisasi yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 serta pelantikan 14 Ranting NU dan 11 Ranting Muslimat NU se-Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Minggu (25/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Dakwah MWCNU Malangbong itu menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus menata gerak organisasi hingga tingkat ranting. Dalam kesempatan tersebut, H. Aceng Hilman Umar Basori menguraikan perjalanan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sejak masa Rasulullah SAW hingga berkembang di Indonesia melalui tradisi keilmuan pesantren dan berdirinya NU.

Qanun Asasi dan Pesan Persatuan

Dalam pemaparannya, H. Aceng Hilman mengingatkan kembali pesan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi. Teks tersebut memuat ajakan kepada berbagai lapisan masyarakat untuk bergabung dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama dan membangun kebersamaan.

Baca Juga:  PKD Ke-4 Ansor Indramayu: Kader Baru Disiapkan Jadi Benteng Aswaja, Ulama, dan NKRI

Salah satu bagian penting dalam naskah tersebut berbunyi:

فَهَلُمُّوا كُلُّكُمْ وَمَنْ تَبِعَكُمْ جَمِيعًا مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْأَغْنِيَاءِ وَالضُّعَفَاءِ وَالْأَقْوِيَاءِ إِلَى هَذِهِ الْجَمْعِيَّةِ الْمُبَارَكَةِ الْمَوْسُومَةِ بِجَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ

Artinya: “Marilah kalian semua beserta seluruh pengikut kalian, baik dari kalangan fakir maupun kaya, golongan lemah maupun kuat, bergabung ke dalam jam’iyah yang penuh berkah ini, yang dinamai Jam’iyah Nahdlatul Ulama.”

Pesan Hadratussyekh tersebut menegaskan bahwa NU merupakan jam’iyah yang mengajak berbagai lapisan masyarakat untuk bersatu dalam satu wadah perjuangan. Kebersamaan itu perlu diwujudkan melalui rasa cinta, persaudaraan, persatuan, dan kesediaan untuk berkhidmah kepada umat.

Menurut H. Aceng Hilman, nilai-nilai tersebut perlu terus dihidupkan hingga tingkat ranting. Pengurus tidak hanya bertugas menjalankan struktur organisasi, tetapi juga menjaga hubungan antarwarga, menggerakkan kegiatan keagamaan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Baca Juga:  KH. A. Sayuti Hasan, Kiai Organisatoris NU dari Indramayu

Tradisi Ngaji sebagai Identitas NU

Selain menekankan persatuan, Ceng Hilman sapaan akrabnya juga mengingatkan pentingnya tradisi mengaji sebagai fondasi pemahaman keagamaan warga Nahdliyin. Menurutnya, ilmu agama perlu dipelajari melalui proses yang benar, dengan bimbingan guru dan ulama serta kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Dalam tradisi keilmuan Islam, pencari ilmu dikenal dengan istilah ṭālibul ‘ilmi, yang berarti orang yang menuntut ilmu. Proses belajar tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk pemahaman agama yang mendalam, sekaligus menjaga kesinambungan ilmu dari generasi ke generasi.

Ia juga menyoroti bahwa tradisi keilmuan merupakan bagian penting dari perjalanan berdirinya NU. Karena itu, kegiatan mengaji dan pengajaran agama perlu tetap berjalan seiring dengan penguatan administrasi serta program organisasi.

Apresiasi untuk MWCNU dan Muslimat NU

Dalam kesempatan itu, H. Aceng Hilman memberikan apresiasi kepada MWCNU Malangbong yang aktif mendorong pelaksanaan Yaumul Ijtima hingga tingkat ranting. Kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkuat silaturahmi, menghidupkan tradisi keagamaan, dan menjaga komunikasi antarwarga NU.

Baca Juga:  Demokrat Ciamis Gelar Donor Darah, Targetkan 200 Pendonor

Apresiasi juga disampaikan kepada Muslimat NU yang konsisten mengikuti kegiatan organisasi. Keterlibatan badan otonom dan pengurus di berbagai tingkatan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan program serta memperluas manfaat organisasi bagi masyarakat.

Pelantikan 14 Ranting NU dan 11 Ranting Muslimat NU di Kecamatan Malangbong diharapkan menjadi penguat semangat pengurus dalam menjalankan amanah organisasi. Dengan kepengurusan yang aktif, tradisi mengaji, persatuan, dan pengabdian diharapkan semakin tumbuh di lingkungan masyarakat.

Melalui momentum HSN 2026 ini, penguatan jam’iyah diharapkan tidak berhenti pada pelantikan pengurus, tetapi berlanjut melalui kegiatan nyata yang dirasakan warga. Semangat Qanun Asasi pun menjadi pengingat bahwa persatuan dan khidmah merupakan bagian penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran