gugah.co – Situ Buleud bukan sekadar kolam air di tengah kota. Ia adalah saksi hidup berdirinya Kota Purwakarta. Sejarah mencatat, pada masa pemerintahan Bupati R.A.A. Soeriawinata atau yang akrab disapa Dalem Shalawat (1830–1849), ibukota Kabupaten Karawang dipindahkan dari Wanayasa ke kawasan Sindangkasih yang menjadi cikal bakal Purwakarta hari ini.
Di kawasan itu terdapat sebuah genangan air alami yang dalam, yang kemudian dikenal sebagai Situ Buleud. Pemilihan lokasi ini tak lepas dari kearifan leluhur: pusat peradaban selalu tumbuh di dekat sumber air, sebagaimana peradaban-peradaban besar dunia bermula dari tepi sungai dan danau.
Sejak masa itu, Situ Buleud terus dipelihara. Dalem Shalawat membangun Solokan Gede yang mengalirkan air dari Parakan Salam hingga masuk ke Situ Buleud, berfungsi sebagai saluran irigasi sekaligus sanitasi kota.
Pada masa R.A.A. Sastraadhiningrat I (Dalem Sepuh), situ ini diperluas dan diperindah, ditanami pohon asam di sekelilingnya, sebagian besar kini telah berganti menjadi pohon mahoni.
Ada pula kisah rakyat yang menyebut Situ Buleud sebagai bekas tempat mandi badak Jawa bercula satu. Meskipun secara logika jarak terasa jauh bagi badak berjalan dari pegunungan, narasi ini tetap menjadi bagian kekayaan budaya yang mencerminkan bagaimana leluhur memandang alam: sumber kehidupan yang dulu masih utuh dan dihuni beragam satwa liar.
Situ Buleud tergolong situ alami yang keberadaan airnya bersumber dari air hujan dan limpasan permukaan. Dulu kawasan ini adalah cekungan rawa alami yang menampung air dari hujan di sekitar pusat kota. Selain itu air juga berasal dari saluran drainase kota: Pasokan utama saat ini berasal dari aliran air permukaan dan saluran pembuangan kawasan sekitarnya.
Artinya, Situ Buleud tidak lagi memiliki mata air alami yang aktif. Ia bukan danau yang mendapat suplai air bawah tanah secara terus-menerus, melainkan cekungan yang bergantung sepenuhnya pada curah hujan dan aliran permukaan.
Mengapa Situ Buleud sering mengalami kekeringan? Menurut Tokoh Masyarakat Purwakarta, Agus M. Yasin, setidaknya ada empat akar persoalan yang saling berkaitan:
1. Hilangnya mata air alami. Tanpa debit air tanah yang masuk secara konstan, saat hujan berhenti, tidak ada lagi sumber yang mengisi ulang dari bawah.
2. Sangat bergantung pada curah hujan. Pasokan air sangat fluktuatif. Saat musim kemarau panjang, air yang masuk berkurang drastis sementara penguapan terus berjalan.
3. Penguapan tinggi dan pendangkalan. Luas permukaan yang terbuka membuat air cepat menguap saat cuaca panas. Di saat yang sama, sedimentasi mengurangi kedalaman efektif dan daya tampung situ.
4. Operasional air mancur tanpa suplai tambahan. Air mancur yang menjadi ikon keindahan Situ Buleud membutuhkan volume air yang cukup. Tanpa sumber air tambahan dari luar, pengoperasiannya saat volume rendah justru mempercepat penurunan kadar air.
Kata Kang Agus, Situ Buleud telah menemani perjalanan Purwakarta hampir dua abad. Dari masa Dalem Shalawat hingga masa pemerintahan terkini yang membangun Taman Sri Baduga dan air mancur ikoniknya, ia tetap menjadi paru-paru kota dan identitas warga.
Namun, keindahan itu membutuhkan perhatian serius. Memahami mengapa airnya bisa surut bukanlah untuk menyalahkan, melainkan langkah awal untuk merawatnya dengan bijaksana, menjaga saluran resapan, menata kawasan sekitar, dan memastikan ada solusi berkelanjutan agar Situ Buleud senantiasa bercahaya, tidak hanya saat hujan turun, tetapi di setiap musim bagi generasi yang akan datang.*





Tinggalkan Balasan