GUGAH – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Garut tidak hanya diisi kegiatan seremonial, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Nahdlatul Ulama.
Salah satu ikhtiarnya diwujudkan melalui Pengkaderan Da’i dan Da’iyyah yang digelar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Kabupaten Garut di Pondok Pesantren Darussalam Al-Faridz, Kecamatan Cisurupan, Sabtu (17/10/2026).
Sebanyak 121 peserta dari wilayah Cisurupan, Cigedug, dan Bayongbong mengikuti kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 17.00 WIB tersebut.
Mengusung tema “Mencetak Da’i Da’iyyah yang Alim, Moderat, dan Militan dalam Bingkai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah”, pengkaderan ini diarahkan untuk memperkuat keilmuan agama, komitmen keorganisasian, dan keterampilan berdakwah.
Ketua LD PCNU Kabupaten Garut, KH. Lukmanul Hakim, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut terlaksana melalui kerja sama LD PCNU Kabupaten Garut, LD MWCNU Cisurupan, dan Pondok Pesantren Darussalam Al-Faridz.
Ia menegaskan, pengkaderan ini menjadi bagian dari rangkaian HSN 2026 tingkat PCNU Kabupaten Garut sekaligus upaya menyiapkan kader dakwah yang siap berkhidmah di tengah masyarakat.
HSN menjadi momentum penguatan kader. Lukmanul berharap pelatihan tersebut melahirkan dai dan daiyah NU yang mampu menjadi penggerak perubahan serta penerang bagi masyarakat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan, khususnya keluarga besar Pondok Pesantren Darussalam Al-Faridz yang telah menjadi tuan rumah.
Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Al-Faridz, A. Nizar Ashhab Nurfadhlillah Al-Faridz, M.Sos, mengingatkan peserta agar menjaga semangat menuntut ilmu dan menyampaikannya kepada masyarakat.
Pesan “belajar sepanjang hayat, tetap mengajar walau satu ayat” menjadi penekanan bahwa pengabdian melalui dakwah harus berjalan seiring dengan proses belajar yang berkelanjutan.
Ia juga menyampaikan ungkapan Sunda, “daek teu daek kudu daek”, sebagai dorongan agar para kader terus belajar dan bersedia berkhidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Semangat tersebut diharapkan tumbuh menjadi komitmen nyata, bukan hanya selama pelatihan, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengkaderan menghadirkan lima pemateri, yakni Dr. KH. A. Hilman Umar Basori, M.Pd; KH. Aang Hidayatus Sibyan; KH. Cecep Jaya Karama; KH. Lukmanul Hakim; dan Ust. Ahmad Apandi. Melalui pembekalan tersebut, peserta diharapkan mampu memperdalam pemahaman keagamaan, memperkokoh nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, serta mengembangkan metode dakwah yang bijaksana dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri unsur LD PCNU Kabupaten Garut, LD MWCNU Cisurupan, perwakilan MUI Kecamatan Cisurupan, unsur pemerintah desa, pimpinan pesantren, PAC Muslimat NU, serta PAC IPNU dan IPPNU. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan dukungan bersama terhadap penguatan kader dakwah dalam rangkaian peringatan HSN 2026.
Melalui kegiatan ini, momentum Hari Santri diharapkan melahirkan dampak yang berkelanjutan bagi kehidupan keagamaan masyarakat.
Para kader tidak hanya dituntut mampu menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga diharapkan menjadi teladan dalam merawat kerukunan, menjaga tradisi keislaman, dan menebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.***





Tinggalkan Balasan