Dongeng Negeri Gapura Megah, Bojong Kenyot

|

Di sebuah lembah yang hijau dan subur, berdirilah negeri yang bernama Bojong Kenyot. Tanahnya subur, sungainya jernih, dan rakyatnya rajin bekerja. Namun anehnya, banyak di antara mereka yang sering mengeluh soal harga beras yang makin mahal, jalan menuju ladang yang berlubang, serta sekolah desa yang atapnya kadang bocor bila musim hujan datang.

Suatu musim, Pemerintah Bojong Kenyot mengumumkan kabar gembira yang luar biasa besar. Bukan soal turunnya harga kebutuhan pokok, bukan pula soal perbaikan jalan atau penambahan ruang kelas baru. Kabar itu berbunyi begini:

“Bojong Kenyot akan memiliki Gapura Termegah di seluruh penjuru lembah. Sebuah karya seni yang akan membuat siapa pun yang lewat merasa kagum dan damai seketika!”

Anggarannya miliaran rupiah digelontorkan bukan untuk memperbaiki puluhan jalan rusak, menambahi atap sekolah, atau menyediakan sumur bersih di beberapa dusun terpencil. Namun para pemimpin negeri memutuskan: yang paling mendesak bukanlah perut yang lapar, melainkan mata yang harus bangga.

Maka mulailah pekerjaan itu. Batu bata merah pilihan dikirim dari jauh, tukang terbaik didatangkan, dan tiang-tiang kokoh berdiri perlahan di pinggir jalan utama. Warga berdatangan menonton. Ada yang berdecak kagum, ada pula yang berbisik pelan: “Semoga gapura ini juga bisa memberi kami makan.”

Baca Juga:  Jangan Jadi Malin Kundang: Ketika Sekjen PKB Merendahkan Rahim yang Melahirkan

Datanglah hari peresmian. Bendera berkibar, musik dimainkan, dan undangan duduk rapi di bawah tenda teduh. Bupati Bojong Kenyot berdiri di atas panggung, menatap gapura yang kini berdiri sempurna: tinggi, kokoh, dan tampak sangat mahal.

“Lihatlah, rakyatku!” ucapnya dengan suara yang terdengar gagah. “Inilah bukti kejayaan kita! Banyak daerah lain iri melihatnya. Mulai hari ini, kita tak perlu lagi banyak-banyak mengeluh. Jalan yang berlubang? Lihatlah ke gapura ini, maka hati akan terang. Harga yang naik? Sentuhlah tembok bata ini, maka semangat akan kembali. Sebab kemakmuran bukan diukur dari apa yang ada di dapur, melainkan dari apa yang terlihat di pinggir jalan raya!”

Tepuk tangan terdengar, hangat namun tak terlalu panjang. Angin sore ikut berdesir di antara pilar-pilar gapura, seolah ikut mengangguk setuju. Upacara pun selesai. Pejabat pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan puas. Laporan pun ditulis: “Kesejahteraan rakyat Bojong Kenyot meningkat pesat. Bukti: Gapura Megah telah berdiri.”

Beberapa langkah dari gapura yang megah itu, tinggalah seorang nenek bernama Nenek Sari. Rumahnya kecil, dindingnya mesti ditambal saat hujan deras. Suatu sore, saat cahaya matahari menyinari merah bata gapura itu, cucunya yang berusia tujuh tahun bertanya dengan polos sambil menatap bayangan panjang gerbang raksasa itu:

Baca Juga:  4 Tanda Orang Berintegritas Tinggi, Bukan Sekadar Jujur

“Nenek, katanya kita sudah makmur ya di Bojong Kenyot? Tapi kenapa kemarin ibu masih bilang beras mahal, dan jalan ke pasar masih becek?”

Nenek Sari tersenyum tipis, menarik tangan cucunya masuk ke dalam rumah yang sederhana, lalu berkata lembut:

“Anakku sayang. Di Bojong Kenyot ini, mereka membangun wajah yang sangat cantik. Tapi lupa memberi makan tubuh yang memakainya. Gapura itu indah, benar sekali. Namun gapura tak bisa menampung hujan, tak bisa memberi minum ternak, dan tak bisa menyembuhkan anak yang sakit. Ia hanya berdiri, berdiri, dan terus berdiri, sementara di belakangnya, kehidupan rakyat masih berjalan seadanya.”

Malam itu, hujan turun. Air menetes dari atap rumah Nenek Sari, sementara gapura batu bata merah di luar sana berdiri kering, kokoh, dan tak tersentuh tetesan air pun yang masuk ke dalamnya.

Berlalulah waktu. Gapura pertama diikuti gapura kedua di persimpangan sebelah. Lalu yang ketiga, keempat, dan kelima. Setiap sudut masuk desa di Bojong Kenyot kini punya gerbangnya sendiri. Setiap gerbang diresmikan dengan pidato yang sama indahnya, dengan janji yang sama megahnya.

Namun warga mulai menyadari satu hal yang aneh:

Semakin banyak gerbang yang berdiri di pinggir jalan, semakin sulit bagi mereka untuk melewati pintu menuju kesejahteraan yang sesungguhnya. Jalan berlubang belum semua diperbaiki, puskesmas masih kekurangan tenaga medis, dan harga kebutuhan pokok kadang naik turun tanpa jaminan.

Baca Juga:  Bukan Sekadar Lulus MAKESTA, Kader Baru IPNU-IPPNU Plered Langsung Diberi Ruang Memimpin

Suatu hari, seorang pengelana dari daerah seberang melintasi Bojong Kenyot. Ia tertegun melihat deretan gapura yang begitu indah dan megah, lalu bertanya kepada seorang petani tua yang sedang beristirahat di bawah pohon tak jauh dari situ:

“Wahai bapak, daerahmu punya gerbang yang luar biasa banyak dan indah. Pasti di dalamnya rakyat hidup sangat bahagia, bukan?”

Petani itu meletakkan cangkulnya, menatap deretan gapura di kejauhan, lalu menghela napas panjang:

“Benar, tuan. Di Bojong Kenyot kami punya puluhan gerbang yang sangat megah. Tapi sayangnya, tak satu pun dari gerbang itu yang terbuka menuju ke dapur kami.”

Pengelana itu terdiam. Ia akhirnya mengerti: kemegahan yang hanya tampil di muka jalan, tanpa diiringi kemakmuran di dalam rumah rakyat, hanyalah sebuah pameran, bukan kebanggaan.

Bangunan indah adalah kebanggaan yang sah. Namun jika ia berdiri tegak sementara rakyatnya di Bojong Kenyot masih membungkuk memikul beban hidup, maka itu bukanlah kemajuan, itu hanyalah bayang-bayang kemewahan yang menutupi realita di baliknya. (redaksi)

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran