GUGAH – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (29/9/2026), dengan pergerakan di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Sebelumnya, berdasarkan data Doo Financial Futures, rupiah ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin (28/9/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 75 poin atau 0,42 persen ke level Rp17.978 per dolar AS.
Pelemahan juga terjadi pada mayoritas mata uang Asia. Baht Thailand mencatat penurunan terdalam sebesar 0,56 persen, disusul won Korea Selatan 0,42 persen, ringgit Malaysia 0,27 persen, dan rupee India 0,11 persen.
Sementara itu, peso Filipina melemah 0,10 persen, dolar Taiwan 0,09 persen, dolar Singapura 0,07 persen, yen Jepang dan yuan China masing-masing 0,02 persen, serta dolar Hong Kong 0,01 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh tingginya permintaan dolar AS dari importir, berlanjutnya arus keluar dana asing, serta masih kuatnya indeks dolar AS.
“Sentimen pasar secara keseluruhan tetap dibayangi kecemasan eskalasi geopolitik di Timur Tengah, sementara investor cenderung berhati-hati menjelang rilis serangkaian data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri pekan ini,” ujar Lukman.
Menurutnya, pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi utama yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah.
“Dari AS akan dirilis data tenaga kerja JOLTS, Non-Farm Payrolls (NFP), serta inflasi PCE. Sementara dari domestik, pasar menunggu data inflasi dan neraca perdagangan,” jelasnya.
Selama sentimen global masih didominasi penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas.
Arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh hasil rilis data ekonomi Amerika Serikat dan Indonesia yang menjadi acuan pasar terhadap prospek suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.***



Tinggalkan Balasan