Ada sebuah nasihat sederhana yang sering kita dengar dari para kiai:
“Pohon yang tinggi bukan karena ia lupa pada akarnya, tetapi karena akarnya semakin kuat.”
Barangkali begitulah cara kita memahami Nahdlatul Ulama (NU) ketika memasuki abad keduanya.
NU bukan sekadar organisasi yang telah berusia seratus tahun. NU adalah rumah besar yang dibangun dari ilmu para ulama, doa para kiai, tirakat para santri, serta keikhlasan jutaan warganya.
Karena itu, memasuki abad kedua bukan sekadar pergantian angka dari seratus menjadi seratus satu. Ini adalah pergantian zaman.
Dan setiap pergantian zaman selalu menghadirkan pertanyaan: apakah kita hanya ingin menjadi pewaris sejarah, atau menjadi pembuat sejarah berikutnya?
Merawat Akar yang Tidak Boleh Dicabut
Orang menanam pohon bukan hanya untuk melihat batangnya tumbuh hari ini. Ia menanam karena berharap anak cucunya kelak dapat berteduh di bawahnya.
Begitu pula dengan NU.
Kita boleh berbicara tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, ekonomi hijau, bonus demografi, geopolitik, hingga dunia kerja yang terus berubah. Namun, jangan sampai kita menjadi seperti pohon yang sibuk meninggikan batang, tetapi lupa memperkuat akar.
Akar NU adalah Ahlussunnah wal Jamaah. Akar itu adalah tradisi keilmuan pesantren, sanad keilmuan, adab kepada guru, serta nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.
Akar itulah yang membuat NU mampu menerima perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Para kiai telah mengajarkan:
Al-muhafazhatu ‘ala al-qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah.
Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.
Prinsip ini justru semakin relevan di tengah perubahan zaman. Sebab, NU tidak pernah diajarkan untuk alergi terhadap perubahan. Yang harus ditolak bukan perubahan, melainkan perubahan yang menghilangkan kemaslahatan.
Nilai boleh tetap, cara boleh berubah.
Menjaga Arah Kapal Besar Bernama NU
Kapal yang besar membutuhkan nahkoda yang memahami arah. Semakin besar kapal, semakin besar pula tanggung jawab nahkodanya.
NU hari ini adalah kapal besar. Warganya tersebar luas, lembaganya bergerak di berbagai bidang, pesantrennya tumbuh, perguruan tingginya berkembang, lembaga sosialnya bergerak, dan potensi ekonominya pun sangat besar.
Namun, sebesar apa pun sebuah kapal, ia akan mudah terombang-ambing jika tidak memiliki arah yang jelas.
Karena itu, NU abad kedua membutuhkan kepemimpinan yang berilmu, berakhlak, adaptif, sekaligus berani mengambil keputusan.
Kita tidak boleh hanya sibuk menghitung berapa banyak jumlah warga NU. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa besar manfaat NU bagi warga NU dan bagi bangsa?
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah jam’iyah bukan hanya banyaknya pengurus, tetapi banyaknya kemaslahatan yang lahir dari kepengurusan.
Jangan Hanya Menjadi Penonton Perubahan
Ketika kita mengendarai kendaraan dan jalan di depan berubah arah, kendaraan pun harus mengikuti jalan. Tidak mungkin kita memaksa kendaraan terus lurus ketika jalan sudah berbelok.
Begitu pula zaman.
Dunia berubah. Teknologi berubah. Cara orang bekerja berubah. Cara anak muda belajar berubah. Cara masyarakat memperoleh informasi pun berubah.
Maka NU juga harus berubah dalam cara bergeraknya, bukan dalam nilai yang dipegangnya.
Kita tidak perlu mengubah akidah untuk menjadi modern. Kita tidak perlu meninggalkan tradisi untuk menjadi maju. Kita juga tidak perlu meninggalkan pesantren untuk memasuki dunia digital.
Justru pesantren harus masuk ke ruang digital.
Kiai harus hadir di tengah perkembangan teknologi. Santri harus menguasai ilmu pengetahuan. Generasi muda NU harus mampu menjadi dokter, pengusaha, akademisi, profesional, birokrat, politisi, ilmuwan, programmer, bahkan pemimpin teknologi tanpa kehilangan akhlak santrinya.
Santri masa depan bukan santri yang meninggalkan kitab kuning, tetapi santri yang mampu membawa nilai-nilai kitab kuning ke tengah persoalan zaman.
Dari Banyak Orang Menjadi Banyak Manfaat
Kita sering bangga mengatakan bahwa NU memiliki warga dalam jumlah besar. Itu adalah nikmat, tetapi sekaligus amanah.
Bayangkan sebuah sumur yang airnya sangat banyak. Jika air itu hanya disimpan di dalam sumur, keberadaannya belum banyak memberikan manfaat.
Namun ketika air itu dialirkan ke sawah, rumah-rumah, dan kepada mereka yang membutuhkan, barulah keberadaan sumur itu benar-benar terasa.
Demikian pula NU.
Besarnya jumlah warga harus berubah menjadi besarnya manfaat.
Warga NU harus semakin sejahtera. Santri harus semakin terdidik. Pesantren harus semakin mandiri. Pelaku usaha NU harus semakin kuat. Tenaga kesehatan NU harus semakin profesional. Guru-guru NU harus semakin dihargai. Anak-anak muda NU harus semakin memiliki ruang untuk tumbuh.
Jika NU besar tetapi warganya masih kesulitan memperoleh pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi, berarti pekerjaan rumah kita belum selesai.
Abad kedua harus menjadi abad kemandirian warga NU.
Sebab, kebesaran organisasi seharusnya tercermin dari meningkatnya kualitas kehidupan orang-orang yang berada di dalamnya.
Pesantren Harus Menjadi Mercusuar
Pesantren sejak dahulu adalah menara ilmu. Dari pesantren lahir ulama, intelektual, pemimpin bangsa, dan penggerak masyarakat.
Namun di abad kedua, pesantren tidak cukup hanya menjadi menara yang tinggi.
Pesantren harus menjadi mercusuar.
Menara menunjukkan bahwa ada bangunan yang tinggi. Mercusuar menunjukkan arah bagi kapal-kapal yang sedang berlayar.
Pesantren harus menjadi tempat lahirnya solusi.
Ketika masyarakat menghadapi kemiskinan, pesantren bicara ekonomi. Ketika masyarakat menghadapi krisis moral, pesantren bicara akhlak. Ketika anak muda menghadapi disrupsi teknologi, pesantren bicara masa depan. Ketika bangsa menghadapi persoalan lingkungan, pesantren bicara tentang tanggung jawab manusia terhadap alam.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi ikut menentukan masa depan.
Anak Muda NU Bukan Sekadar Penerus
Ada satu hal yang perlu kita renungkan.
Kita sering mengatakan kepada anak muda, “Kalian adalah penerus NU.”
Kalimat itu baik, tetapi belum cukup.
Anak muda NU bukan hanya penerus. Mereka harus menjadi pembaharu.
Setiap generasi memiliki zamannya sendiri. Kiai-kiai terdahulu berjuang dengan alat perjuangan yang mereka miliki. Hari ini kita memiliki alat yang berbeda.
Dahulu dakwah dilakukan dari masjid ke masjid. Hari ini dakwah juga bisa dilakukan dari layar ke layar.
Dahulu santri membawa kitab dengan tangan. Hari ini santri juga harus mampu membawa ilmu melalui teknologi.
Dahulu perjuangan dilakukan di jalan dan pesantren. Hari ini perjuangan juga berlangsung di ruang digital.
Maka jangan marah ketika anak muda NU memiliki cara yang berbeda.
Selama ruhnya tetap sama, cara boleh berubah. Baju boleh berganti, tetapi tubuh jangan kehilangan jiwa.
Politik sebagai Jalan Pengabdian
NU juga tidak boleh alergi terhadap politik. Namun, politik bagi kader NU harus menjadi jalan pengabdian, bukan sekadar jalan mendapatkan kekuasaan.
Kader NU yang menjadi pejabat harus memahami bahwa jabatan ibarat kendaraan pinjaman. Suatu saat kendaraan itu harus dikembalikan.
Maka jangan sampai ketika berada di atas kendaraan, kita lupa kepada orang-orang yang dulu mendorong kita naik.
Jabatan itu sementara. Nama baik lebih lama. Dan amal baik akan dibawa setelah semua jabatan selesai.
Karena itu, kader NU yang berada dalam pemerintahan harus membawa satu prinsip sederhana:
Jika belum mampu membuat rakyat tersenyum, setidaknya jangan membuat rakyat semakin susah.
Abad Kedua Adalah Abad Kemandirian
Saya membayangkan NU abad kedua bukan hanya sebagai organisasi sosial-keagamaan yang besar, tetapi juga sebagai kekuatan peradaban.
NU harus memiliki ekosistem pendidikan yang kuat, kesehatan yang kuat, ekonomi yang kuat, digital yang kuat, dan tentu saja kaderisasi yang kuat.
Jangan sampai warga NU hanya menjadi pasar. Jangan sampai warga NU hanya menjadi konsumen.
Kita harus naik kelas menjadi produsen, pengusaha, profesional, pemilik teknologi, pemilik usaha, dan pengambil keputusan.
Kemandirian ekonomi bukan berarti meninggalkan nilai kesederhanaan yang diajarkan pesantren. Justru ekonomi harus menjadi alat untuk menjaga martabat manusia.
Kiai mengajarkan:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
Maka abad kedua harus menjadi momentum agar warga NU semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Menutup Abad Pertama, Membuka Pintu Abad Kedua
Seratus tahun pertama NU adalah sejarah perjuangan. Di sana ada air mata, pengorbanan, doa, dan ketulusan.
Kita tidak boleh melupakan mereka yang telah mendahului.
Namun, jangan pula terlalu lama tinggal di masa lalu.
Sejarah bukan rumah untuk ditempati selamanya. Sejarah adalah cermin untuk melihat apakah langkah kita hari ini sudah benar.
Kini pintu abad kedua telah terbuka. Kita berdiri di depan pintu itu bersama generasi baru.
Maka mari bertanya kepada diri sendiri:
NU seperti apa yang ingin kita wariskan seratus tahun dari sekarang?
Apakah NU yang hanya besar jumlahnya, atau NU yang besar manfaatnya?
Apakah NU yang sibuk dengan perebutan posisi, atau NU yang sibuk memperjuangkan kesejahteraan umat?
Apakah NU yang hanya pandai mengenang jasa para pendahulu, atau NU yang mampu meneruskan perjuangan mereka dengan cara yang relevan dengan zaman?
Saya memilih yang kedua.
Sebab mencintai NU bukan hanya dengan bangga menyebut nama NU. Mencintai NU adalah membuat NU hadir dalam kehidupan masyarakat.
Ketika seorang anak miskin bisa sekolah, di sana ada semangat NU.
Ketika seorang ibu mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, di sana ada semangat NU.
Ketika seorang santri mampu mandiri secara ekonomi, di sana ada semangat NU.
Ketika seorang pemuda mendapatkan pekerjaan dan masa depan, di sana ada semangat NU.
Dan ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling membenci, di sana pula wajah NU hadir.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu bertanya, “Apa yang akan NU dapatkan di abad kedua?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang akan NU berikan kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan di abad kedua?”
Sebab NU yang besar bukanlah NU yang paling banyak meminta.
NU yang besar adalah NU yang paling banyak memberi manfaat.
Kita rawat akarnya.
Kita kuatkan batangnya.
Kita lebarkan dahannya.
Dan kita pastikan buahnya bisa dinikmati siapa saja.
Itulah NU abad kedua: tetap berakar pada tradisi, tegak menghadapi zaman, dan berbuah kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh : Wildan Fathurrahman, S.Kep., Ns., M.H. (Ketua Lembaga Kesehatan PCNU Kota Bekasi)




Tinggalkan Balasan