Toyama Bersholawat Getarkan Jepang: Strategi PCINU Jaga Keberlanjutan Dakwah di Negeri Sakura

|

GUGAH – Gema lantunan selawat nabi dan syiar kebudayaan Islam Nusantara bergaung khidmat di Prefektur Toyama, Jepang. Pengurus Majelis Wakil Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (MWCINU) Toyama sukses menggelar acara keagamaan kolosal bertajuk “Toyama Bersholawat: Menjalin Harmoni Silaturahmi dalam Balut Budaya dan Seni”.

Acara yang dipusatkan di Aubade Hall Toyama pada hari Minggu (7/6/2026) ini dihadiri oleh ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang bermukim di wilayah Toyama dan sekitarnya, mulai dari pekerja profesional, pemagang (kenshuusei), hingga mahasiswa.

Kegiatan kolosal ini diinisiasi oleh MWCINU Toyama dengan Syubbanul Musthofa (Majelis Dzikir dan Sholawat) serta didukung penuh oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.

Berlangsung dari pukul 10.00 hingga 16.00 JST, acara diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tawasul, tahlil, pembacaan Maulid Simthud Duror, hingga puncaknya yaitu tausyiah agama (Mauidhoh Hasanah) oleh Ustadz Nasril Albab, M., M.A. selaku Imam Masjid Indonesia Tokyo.

Baca Juga:  Baznas Depok Salurkan Bantuan untuk Palestina: Bukti Peduli Kemanusiaan

Ketua Tanfidziyah PCINU Jepang, Kyai Achmad Gazali, Ph.D., dalam sambutan utamanya memberikan pesan strategis dan visioner mengenai esensi perkhidmatan jam’iyah di luar negeri.

Ia menekankan bahwa pemetaan data objektif mengenai jumlah WNI di suatu wilayah merupakan kunci utama efektivitas program kerja organisasi.

“Sangat penting bagi kita semua untuk memahami seberapa besar objek perkhidmatan kita. Jika kita memahami dengan detail jumlah WNI yang ada di Toyama, maka pengurus MWCINU Toyama akan benar-benar memahami tantangan nyata yang dihadapi, serta bagaimana keberadaan NU ini dapat dirasakan manfaatnya secara konkret oleh seluruh WNI yang menjadi objek perkhidmatan tersebut,” ujar Kyai Achmad Gazali di hadapan jemaah yang hadir.

Baca Juga:  PBNU Kutuk Keras Serangan Brutal Militer Israel di Lebanon Selatan

Kyai Achmad juga menambahkan bahwa dengan pemahaman target basis data yang jelas, organisasi akan senantiasa terpacu untuk tampil semakin militan dan bergerak progresif dalam mencapai target-target perkhidmatan sosial dan keagamaan bagi masyarakat Indonesia di perantauan.

Selain menyoroti efektivitas pelayanan ummat, Kyai Achmad Gazali juga menitipkan pesan krusial terkait masa depan dakwah Islam di Negeri Sakura melalui proses kaderisasi.

Mengingat status sebagian besar WNI di Jepang bersifat dinamis dan memiliki batas waktu tinggal, estafet kepengurusan tidak boleh terputus.

“Saya menekankan betul tentang pentingnya proses kaderisasi yang berkelanjutan. Kita harus sadar, lebih-lebih karena kita tidak akan tinggal selamanya di Jepang ini. Tanpa adanya kaderisasi yang kuat, suatu organisasi teranccam macet bahkan bisa putus di tengah jalan dalam melaksanakan perkhidmatan kepada ummat,” tegas pakar akademisi yang kini memimpin PCINU Jepang tersebut.

Baca Juga:  9 WNI Diculik Israel Saat Misi Kemanusiaan GSF ke Gaza

Acara yang berlangsung penuh haru dan kerinduan akan kampung halaman ini diakhiri dengan khidmat lewat doa penutup yang dipimpin langsung oleh KH. Agus Sulipan, A.Md. (Rois Syuriah PCINU Jepang) serta sesi foto bersama seluruh jemaah.

Melalui kesuksesan gelaran ini, MWCINU Toyama berkomitmen untuk terus menjadi wadah pemersatu, benteng moral, serta jembatan diplomasi kultural yang membawa misi Islam Rahmatan lil ‘Alamin di bumi Jepang.*

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran