Rupiah Menguat ke Rp17.814 per Dolar AS Dipicu Gencatan Senjata AS-Iran

|

GUGAH – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan Jumat pagi. Penguatan mata uang Garuda dipicu sentimen global terkait kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip Antara, rupiah naik 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.814 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp17.846 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga:  Update Harga Emas Pegadaian Sabtu 9 Mei 2026: Galeri24 dan UBS Stagnan di Akhir Pekan

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat dengan kisaran di Rp17.800 – Rp17.860 dipengaruhi oleh faktor global adanya kesepakatan gencatan senjata baru selama 60 hari antara AS dan Iran menekan harga minyak di bawah 100 dolar dan index dollar yang menjinak,” katanya kepada Antara di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Laporan Anadolu menyebut Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati rancangan kesepakatan sementara selama 60 hari. Namun, Presiden AS Donald Trump disebut belum memberikan persetujuan final terhadap kesepakatan tersebut.

Baca Juga:  Rupiah Berisiko Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Dalam rancangan memorandum itu, jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz tetap dibuka tanpa pembatasan. Iran juga diminta membersihkan ranjau di kawasan tersebut dalam waktu 30 hari.

Selain itu, Iran disebut berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir. Sebagai gantinya, AS membuka peluang pembahasan pencabutan sanksi dan pelepasan dana Iran yang dibekukan.

Meski sentimen global mendukung penguatan rupiah, kondisi domestik dinilai masih menjadi perhatian pasar.

Baca Juga:  IHSG Bangkit di Tengah Tekanan Rupiah, Saham Energi Jadi Motor Penguatan

Rully menilai kebijakan fiskal pemerintah dan sejumlah proyek besar berpotensi menekan rupiah apabila tidak diimbangi konsolidasi fiskal yang kuat.

“Kebijakan pemerintah belum banyak berubah dalam rencana konsolidasi fiskal yang menjamin defisit tidak melebihi 3 persen dari PDB,” ujar Rully.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran