GUGAH – Asap dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Conggeang Kulon Sumedang mendadak lenyap. Bukan karena tungku kehilangan bara, melainkan karena anggaran yang seharusnya menjadi bahan bakarnya belum juga mengalir.
Surat Edaran penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Conggeang Kulon yang beredar pada Kamis (8/10/2026) sontak memantik tanda tanya. Program yang digadang-gadang menjadi tameng pemenuhan gizi anak-anak itu kini harus menekan tombol jeda.
Koordinator SPPG Wilayah Sumedang, Gifari, memastikan matinya aktivitas dapur bukan dipicu silang sengkarut pengelolaan anggaran di tingkat daerah. Pangkal persoalannya, kata dia, berada pada tersendatnya pencairan dana operasional dari pemerintah pusat.
“Pencairan dari pusat memang sedang mengalami kendala teknis administratif. Kondisi ini juga terjadi di sejumlah wilayah. Kami tidak bisa menjalankan operasional di luar mekanisme karena seluruh penggunaan anggaran harus mengikuti regulasi dan sistem pelaporan yang berlaku,” ujar Gifari.
Menurutnya, keputusan menghentikan sementara operasional bukan bentuk kemunduran, melainkan ikhtiar menjaga tata kelola agar tetap berdiri di atas fondasi transparansi dan akuntabilitas. Sebab, di tengah ketatnya regulasi, tak ada ruang bagi pengelola untuk menalangi ataupun mengutak-atik anggaran di luar prosedur.
Konsekuensinya tak bisa dielakkan. Dapur berhenti mengepul, rantai distribusi makanan bergizi terputus sejenak, dan ribuan porsi yang semestinya tersaji harus menunggu kepastian.
Gifari menegaskan, roda pelayanan akan kembali berputar segera setelah dana operasional resmi ditransfer oleh kementerian atau badan terkait. Hingga saat itu tiba, koordinasi terus dirajut antara SPPG Wilayah Sumedang, Badan Gizi Nasional, dan instansi pembina di tingkat pusat demi mengurai simpul administrasi yang menghambat.
Di balik istilah “kendala teknis administratif”, terselip kenyataan yang lebih sederhana untuk dipahami masyarakat: ketika anggaran tersendat, pelayanan ikut tersendat. Sebab, sebaik apa pun sebuah program dirancang, ia tetap membutuhkan napas bernama pembiayaan.
Dan hari ini, di Conggeang Kulon, yang padam bukan sekadar api di tungku dapur. Harapan untuk menyajikan makanan bergizi tepat waktu pun terpaksa menunggu aliran anggaran kembali menemukan jalannya.***





Tinggalkan Balasan