GARUT – Nama Banyuresmi bukan sekadar penanda wilayah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tetapi juga menyimpan jejak perubahan pemerintahan sejak masa Hindia Belanda. Dari nama Bojongsalam dalam catatan administrasi hingga keberadaan Situ Bagendit yang lekat dengan kehidupan masyarakat, sejarah kawasan ini memperlihatkan hubungan antara penamaan tempat, lingkungan alam, dan perkembangan permukiman.
Penelusuran literatur sejarah menunjukkan setidaknya dua jalur yang perlu dibedakan, yakni perubahan nama wilayah administratif dan perjalanan terbentuknya Desa Banyuresmi seperti yang dikenal sekarang. Keduanya berkaitan dengan sejarah Garut, tetapi tidak serta-merta merujuk pada peristiwa yang sama.
Makna nama dan hubungan dengan Situ Bagendit
Secara kebahasaan, nama Banyuresmi ditafsirkan melalui unsur kata “banyu” yang berarti air dan “resmi” yang dalam kajian toponimi tertentu dimaknai sebagai indah, murni, atau bersih. Penafsiran tersebut mengarah pada makna air yang indah dan dikaitkan dengan karakter lingkungan perairan di kawasan Banyuresmi.
Kajian berjudul Toponim untuk Menelusuri Lokasi Berpotensi Sumber Daya Pangan di Provinsi Jawa Barat menghubungkan nama Banyuresmi dengan Situ Bagendit, yang pada masa lalu disebut menjadi salah satu sumber penghidupan warga, termasuk melalui kegiatan mencari ikan. Meski demikian, penafsiran kebahasaan ini belum cukup untuk memastikan siapa yang pertama kali memberi nama Banyuresmi ataupun kapan nama tersebut mulai digunakan.
Situ Bagendit sendiri memiliki posisi penting dalam identitas kawasan, baik sebagai lingkungan perairan maupun sebagai tujuan wisata yang dikenal masyarakat luas. Cerita rakyat Nyi Endit turut memperkaya ingatan budaya setempat, tetapi tradisi lisan tersebut perlu dibedakan dari bukti sejarah mengenai pembentukan situ dan asal-usul nama wilayah.
Bojongsalam dalam catatan pemerintahan kolonial
Petunjuk mengenai perubahan nama wilayah ditemukan dalam buku *Sejarah Garut* karya S. Anggapradja yang terbit pada 1984. Dalam pembahasan sejarah administrasi Garut, buku tersebut menyebut perubahan nama Onder-Distrik Bojongsalam menjadi Banyuresmi.
Keterangan serupa juga disebut dalam buku *Potret Para Dalem Garoet Masa Hindia Belanda*. Informasi dari kedua literatur itu menjadi pijakan awal untuk menelusuri perubahan struktur pemerintahan kolonial, meskipun tanggal pasti perubahan nama Bojongsalam menjadi Banyuresmi masih memerlukan verifikasi melalui dokumen sezaman.
Pada masa Hindia Belanda, wilayah Garut mengenal pembagian administratif seperti kabupaten, distrik, dan onder-distrik. Perubahan nama dan penataan wilayah dalam struktur tersebut perlu dibaca sesuai konteks pemerintahan pada zamannya, bukan langsung disamakan dengan batas kecamatan yang berlaku saat ini.
Tahun 1922, tiga desa bergabung
Riwayat resmi Pemerintah Desa Banyuresmi yang dipublikasikan pada 4 Agustus 2022 mencatat tahapan berbeda dalam pembentukan desa. Menurut catatan tersebut, sekitar 1922, Desa Cikananga, Desa Cikawao, dan Desa Cipicung digabung menjadi satu wilayah bernama Desa Sukamaju.
Penggabungan itu disebut disertai pemberian gelar Lurah Hormat kepada ketiga kepala desa sebelumnya serta penerbitan *besluit* oleh Residen Priangan. Setelah penyatuan wilayah, Wangsa Guna tercatat sebagai kepala Desa Sukamaju.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa sejarah desa tidak hanya berkaitan dengan pergantian nama, tetapi juga dengan penyatuan pemerintahan dan penataan wilayah permukiman. Namun, rincian administrasi dalam riwayat desa tetap perlu dicocokkan dengan arsip aslinya untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh.
Tahun 1932, nama Banyuresmi digunakan untuk desa
Riwayat Pemerintah Desa Banyuresmi selanjutnya menyebut bahwa pada 1932, nama Desa Sukamaju berubah menjadi Desa Banyuresmi. Perubahan tersebut dikaitkan dengan besluit Residen Priangan tertanggal 12 Maret 1932 sebagaimana dirujuk dalam buku Sejarah Garut karya S. Anggapradja.
Sejak perubahan itu, nama Banyuresmi digunakan untuk desa tersebut, dengan pusat pemerintahan desa berada di Kampung Parigi menurut riwayat yang dipublikasikan. Catatan ini menjadi petunjuk penting untuk memahami sejarah Desa Banyuresmi, tetapi tidak boleh otomatis dianggap sebagai tanggal awal penggunaan nama Banyuresmi untuk seluruh wilayah administratif.
Dua riwayat yang perlu dibedakan
Perubahan nama Onder-Distrik Bojongsalam menjadi Banyuresmi dan perubahan Desa Sukamaju menjadi Desa Banyuresmi pada 1932 merupakan dua keterangan sejarah yang berbeda. Tanpa dokumen primer yang menjelaskan hubungan keduanya, kedua peristiwa tersebut tidak dapat dipastikan sebagai satu rangkaian perubahan yang berlangsung bersamaan.
Untuk menelusuri sejarahnya secara lebih mendalam, peneliti dapat membandingkan buku sejarah lokal dengan peta topografi Hindia Belanda, keputusan Residen Priangan, laporan pemerintahan, serta arsip yang menyebut permukiman dan Situ Bagendit. Pencocokan sumber diperlukan agar penjelasan mengenai asal-usul nama Banyuresmi tidak hanya bertumpu pada tafsir kata atau cerita yang berkembang di masyarakat.
Pada akhirnya, sejarah Banyuresmi mempertemukan tiga unsur penting: penafsiran nama, perubahan administrasi, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan perairan. Jejak Bojongsalam, penggabungan tiga desa sekitar 1922, serta perubahan nama Desa Sukamaju pada 1932 memberikan titik awal untuk membaca perjalanan kawasan ini, sementara sejumlah detail masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut.***





Tinggalkan Balasan