60 Tahun Amin Said Husni

|

“Angkatan kita yang paling dulu bolak-balik ke Kramat Raya adalah Pak Imin, Pak Ipul, Pak Amin, dan saya. Yang paling telaten dan memahami seluk-beluk PBNU ya Pak Amin ini.” (Gus Yahya)

Sekitar 4 pekan lalu, saya ikut rombongan Ketua Umum untuk takziyah ke Boyolali, wafat ibundanya Gus Aun. Rombongan berangkat dari stasiun Gambir, kecuali saya yang “nyegat” dari stasiun Bekasi.

“Zah, kamu katanya ikut takziyah? Kok belum sampe Gambir? Kami sudah mau boarding,” WA Mas Amin Said Husni.

“Ikut Mas, saya naik dari Bekasi,” saya menjawab.

“Emang Bekasi ada stasiun?” Balasnya, tanpa emot apa-apa. Entah serius entah guyon. Saya merespons dengan wkwkwkw.

Saat saya masuk kereta di gerbong, Mas Amin Said sudah terkulai tidur di jok, di sampingnya Gus Yahya sedang khusyuk wiridan. Dia terlihat tidur angler, betul-betul memerlukan istirahat, meski dengan cara duduk di jok yang tidak empuk dan kendaraan yang bergoyang-goyang.

Siang harinya, Mas Amin memang sibuk banget di kantor PBNU lantai 3. Dari pagi dia sudah rapat ini rapat itu, menerima tamu bergantian, dan diskusi dengan tim kecil, bakda isyanya masih ngezoom. Tidak sempat dia pulang, dini hari menuju stasiun kereta. Kemeja dan celana yang dikenakan seharian, masih membalut tubuhnya, hanya ada tambahan jaket sederhana untuk menghalau AC kereta malam yang lumayan dingin.

Baca Juga:  Menjaga Marwah NU: Pelajaran Sejarah tentang Larangan Rangkap Jabatan

Lebih dari 2 tahun terakhir ini, begitulah aktivitas Mas Amin: pontang-panting mengupayakan dengan keras agar PBNU tetap berjalan, apapun keadaannya.

“Apa dia tidak bosan?” Begitu saya ngrasani sama beberapa teman. Mungkin saja bosan, bahkan merasa terpaksa, tetapi sepertinya apa boleh buat. Dia tidak bisa menolak keadaan dan tanggung jawab.

De facto, dialah yang memikul nyaris semua pekerjaan kesekjenan PBNU, setelah sekjen yang de jure tidak aktif lagi karena sudah bekerja di luar.

Orang-orang bersaksi, Mas Amin Saidlah yang Super sibuk menggelindingkan roda organisasi, termasuk berjibaku menyiapkan laporan PBNU 2022-2026. Saking sibuknya dia kantor, sering terlihat cuma pakai sandal jepit, sepatunya dibiarkan nganggur di kolong meja kerjanya.

Dan dengan ipad mini yang tidak pernah lepas dari tangannya, dia sangat produktif menulis, memeriksa, mencatat, mengkonsep tanda tangan, dan lain-lain. Bahkan, di usianya yang tidak muda lagi, dia tergolong lincah menggunakan perangkat teknologi, termasuk AI. Dia jauh dari kesan generasi X yang gagap teknologi. Jika Digdaya NU terlihat berkembang cepat, canggih, dan efektif, maka dialah salah satu arsiteknya.

Baca Juga:  Cirebon dan Relevansi Historis Menjadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35

Bagi orang yang suka ngobrol, pidato keren dengan ide besar atau bahkan bercerita dengan semangat, sosok Mas Amin tidaklah terlalu menarik. Dia cenderung diam. Dia seperti youtube atau spotify, meski banyak sekali informasinya, kalau tidak diklik ya gak akan berbunyi. Tetapi partner kerja dengan karakter seperti dialah  sangat diperlukan Ketua Umum PBNU Gus Yahya: mampu menerjemahkan ide besar, telaten, khusyuk, dan punya waktu, tidak nyambi jadi ini dan itu. Bahkan tabah dan sabar tidak populer serta tidak baper dinilai tidak menarik.

Mas Amin Said memang sepertinya sudah capek berkarir di luar, jadi DPR sekian periode, jadi Bupati sekian periode. Popularitas dan sekian posisi penting di luar sudah dirasakannya. Sudah tepat, jika 5 tahun terakhir ini dan 5 tahun ke depan, menerima pekerjaan dan aktivitas di rumah besarnya: NU.

Baca Juga:  Istighosah untuk Gus Yaqut, Dukungan Sahabat Menguat Jelang Sidang Perdana Kasus Kuota Haji

Kemarin, tanggal 19 Agustus 2026, Mas Amin genap berumur 60 tahun. Angka yang istimewa. Tetapi boro-boro ada buku berisi kenang-kenangan teman-temannya mensyukuri tambah umur, yang sepele seperti tumpeng pun tidak ada, tidak ada juga tiup lilin dan nyanyian, apalagi kue lezat nan mahal yang bertuliskan namanya, lengkap dengan embel-embel lazimnya orang penting: Dr. KH. Amin Said Husni.

Usianya tidak muda lagi. Ciri-ciri absolutnya adalah jika usia sekarang dikalikan 2 hasilnya lebih dari satu abad. Soal rambut putihnya, keriput di sana sini karena memang tubuhnya  kurus juga, gak ada masalah sama sekali. Apalagi, siapa sangka, dialah yang membuat PBNU solid dan terus bergerak maju ke depan, dengan segala rintangan yang telah dan akan terjadi. Wajar dia begitu teguh dengan tanggung jawabnya, karena amat hafal seluk-beluk PBNU, karakter dan tradisi kerja orang-orangnya. Ya, seperti kutipan Gus Yahya yang saya bubuhkan di awal catatan ini.

Selamat ulang tahun Mas, semoga sehat, panjang umur, dan tetap tertawa di tengah tanggung jawab besar, Mas..

Penulis: Hamzah Sahal

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran