Dari PGA Ma’arif hingga Darul Fitri: Empat Dekade Menjaga Khidmah Pendidikan di Leles

|

Sejarah sebuah lembaga pendidikan tidak hanya dapat dibaca dari tahun berdirinya, bangunan yang ditempati, atau jumlah peserta didik yang pernah memenuhi ruang-ruang kelasnya. Di balik keberlangsungan sebuah sekolah selalu terdapat gagasan, pengabdian, kegelisahan, serta ikhtiar orang-orang yang berusaha memastikan pendidikan tetap hadir di tengah masyarakat. Jejak semacam itulah yang mengiringi perjalanan Yayasan Darul Fitri Leles, sebuah lembaga yang akar sejarahnya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan PGA Ma’arif 6 Tahun Leles.

Jauh sebelum nama Darul Fitri dikenal masyarakat seperti sekarang, di Leles telah berdiri Pendidikan Guru Agama (PGA) Ma’arif 6 Tahun. Lokasinya berada di kawasan yang tidak jauh dari Pasar Leles saat ini. Pada masanya, PGA Ma’arif menjadi salah satu tumpuan masyarakat yang menginginkan pendidikan dengan penekanan kuat pada pengetahuan dan pembentukan karakter keagamaan.

Kehadiran PGA Ma’arif mempunyai arti penting bagi masyarakat Leles dan sekitarnya. Sekolah tersebut bukan semata tempat memperoleh ijazah, melainkan turut menyediakan ruang bagi lahirnya generasi yang kemudian mengabdikan diri di tengah masyarakat. Tidak sedikit alumninya yang kelak berkiprah di berbagai instansi, khususnya dunia pendidikan. Sebagian di antaranya menjadi guru agama dan mengajar di sekolah-sekolah tingkat dasar di Kecamatan Leles.

Perubahan kebijakan pendidikan kemudian membawa babak baru. Seiring penataan kelembagaan pendidikan agama yang dilakukan Kementerian Agama dengan hadirnya jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs), PGA Ma’arif Leles bertransformasi menjadi MTs Ma’arif dengan masa pendidikan tiga tahun. Para lulusannya kemudian melanjutkan pendidikan ke berbagai sekolah tingkat atas. Pada masa itu, MAN 1 dan MAN 2 Garut menjadi di antara pilihan yang banyak dituju lulusan MTs Ma’arif Leles.

Perjalanan lembaga pendidikan tentu tidak selalu berada dalam keadaan ideal. Dalam perkembangannya, persoalan manajemen membuat PGA Ma’arif yang kemudian menjadi MTs Ma’arif Leles mengalami kemunduran hingga akhirnya berada dalam kondisi yang sulit. Persoalan tersebut bukan hanya menyangkut keberlangsungan sebuah institusi, tetapi lebih jauh menyentuh nasib peserta didik yang membutuhkan kepastian pelayanan pendidikan.

Situasi itulah yang membangkitkan keprihatinan sejumlah tokoh di Kecamatan Leles. Salah seorang yang mengambil inisiatif adalah Kepala KUA Leles sekaligus pemegang nazhir wakaf Masjid Besar Kecamatan Leles, KH Atje Abdur Rasjid. Ia mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kalangan pendidikan untuk memikirkan jalan keluar agar para peserta didik tetap memperoleh hak pendidikan secara layak.

Ikhtiar penyelamatan pendidikan tersebut kemudian mempertemukan KH Atje Abdur Rasjid dengan sejumlah tokoh, di antaranya H. Hudman dan H. Makmur. Dari kegelisahan dan tanggung jawab bersama itu kemudian dirintis lembaga pendidikan baru bernama MTs Al-Fitroh.

Kelahiran MTs Al-Fitroh bukan berarti seluruh persoalan selesai. Pada masa awal pendiriannya, tantangan justru cukup besar, terutama menyangkut izin operasional dan rekomendasi pemerintah. Letak lembaga yang berdekatan dengan sekolah yang lebih dahulu berdiri, seperti SMP Negeri 1 Leles dan SMP Pasundan Leles, menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi para perintis.

Ada satu peristiwa yang kemudian menjadi bagian penting dari ingatan sejarah lembaga. Ketika mantan Wali Kota Bogor, H. Mohammad Odang Prawiradirja, dimakamkan di Leles, KH Atje Abdur Rasjid dipercaya menjadi ketua pelaksana pemakaman. Momentum tersebut membuka komunikasi yang lebih luas dengan unsur pemerintahan. Dalam perkembangan berikutnya, jalan bagi keberadaan MTs Al-Fitroh semakin terbuka hingga akhirnya memperoleh izin untuk menyelenggarakan pendidikan.

Baca Juga:  PC IPNU Harus Jawab Tantangan Regenerasi Pelajar NU Purwakarta

Sejak saat itu, MTs Al-Fitroh perlahan tumbuh. Perjalanannya ditopang oleh keterlibatan sejumlah tokoh pendidikan Kecamatan Leles, di antaranya H. Ase, H. Holil, H. Atjeng ZA, dan H. Tamdjid. Nama terakhir kemudian dipercaya menjadi ketua yayasan. Pilihan tersebut tidak terlepas dari kiprah dan pengalamannya di lingkungan pemerintahan serta pendidikan. H. Tamdjid ketika itu merupakan Kasubag di Kementerian Agama Kabupaten Garut dan dalam perjalanan kariernya kemudian dipercaya menjadi Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sumedang.

Dari Al-Fitroh Menuju Darul Fitri

Secara kelembagaan, tonggak penting perjalanan tersebut terjadi pada 1986. Yayasan yang pada awalnya menggunakan nama Al-Fitroh secara resmi berdiri dengan menaungi pendidikan setingkat Madrasah Tsanawiyah. Kehadirannya mendapat respons cukup baik dari masyarakat.

Meningkatnya minat masyarakat menyekolahkan putra-putrinya ke MTs Al-Fitroh kemudian memunculkan kebutuhan akan jenjang pendidikan lanjutan. Pada 1989, dibukalah pendidikan setingkat Madrasah Aliyah. Karena keterbatasan sarana pada masa awal, kegiatan pembelajaran MA dilaksanakan pada siang hari setelah kegiatan belajar MTs Al-Fitroh selesai.

Sekitar dua tahun setelah MA Al-Fitroh berjalan, datang dukungan dari salah seorang pengusaha Leles, H. Bakir. Ia menawarkan sebidang tanah wakaf yang cukup luas untuk dimanfaatkan sebagai lokasi pendidikan Madrasah Aliyah. Tawaran tersebut menjadi titik penting bagi pengembangan lembaga.

Madrasah Aliyah kemudian berpindah dari lingkungan awalnya ke lokasi baru. Dalam perkembangan selanjutnya, lembaga tersebut dikenal sebagai MA Baiturrahman Leles, sementara kepengurusan yayasan pada masa itu masih berada dalam mata rantai pengelolaan yang sama.

Pada kisaran 1989 pula, nama Darul Fitri mulai dipilih untuk menggantikan Al-Fitroh sebagai nama yayasan dan Madrasah Tsanawiyah. Pergantian nama tersebut kemudian menandai identitas baru lembaga yang bertahan hingga sekarang: Yayasan Darul Fitri Leles dan MTs Darul Fitri Leles.

Dengan demikian, membaca sejarah Darul Fitri tidak cukup hanya dimulai ketika nama tersebut digunakan. Ada perjalanan panjang sebelumnya yang berakar dari tradisi pendidikan PGA Ma’arif Leles, dilanjutkan melalui MTs Ma’arif, melewati masa sulit kelembagaan, kemudian diselamatkan melalui ikhtiar para tokoh masyarakat hingga tumbuh menjadi Al-Fitroh dan selanjutnya Darul Fitri.

Mata rantai sejarah tersebut penting dirawat. Sebab, identitas sebuah lembaga tidak lahir dalam ruang kosong. Ada warisan pendidikan Ma’arif, semangat keagamaan, peran ulama, guru, aparatur Kementerian Agama, pengusaha, serta dukungan masyarakat yang bersama-sama membentuk perjalanan Darul Fitri.

Empat Dekade, dari Masa Sulit hingga Masa Keemasan

Hampir empat dekade bukan perjalanan singkat bagi sebuah lembaga pendidikan. Dalam rentang tersebut, Darul Fitri telah melahirkan banyak alumni yang kemudian tersebar di berbagai bidang kehidupan, baik di lingkungan pemerintahan, pendidikan, maupun sektor swasta. Regenerasi kepengurusan pun berlangsung setelah satu per satu generasi pendiri wafat.

Baca Juga:  Sejarah Para Pemimpin Muda NU

Estafet pengelolaan Yayasan Darul Fitri selanjutnya diteruskan, antara lain, oleh putra-putri KH Atje Abdur Rasjid. Dalam akta yayasan saat ini tercatat Prof. H. Fauzan Ali Rasjid, M.Si. dan Dra. H. Ani Farida, dengan dibantu H. Agus Bunyamin dalam kepengurusan yayasan.

Hubungan historis antara lembaga pendidikan dan Masjid Besar Kecamatan Leles juga terus diupayakan agar semakin kuat. Drs. H. Dahlan Saputra dan Ust. Yusuf Ridwan, selaku bagian dari nazhir wakaf Masjid Besar Kecamatan Leles, turut menjadi bagian dari organ Yayasan Darul Fitri. Keterlibatan tersebut memiliki makna tersendiri karena sejak periode awal, perjalanan lembaga memang bersinggungan erat dengan Masjid Besar Leles dan tokoh-tokoh yang mengabdi di dalamnya.

Sebagaimana lembaga pendidikan lainnya, perjalanan MTs Darul Fitri tidak selalu ditandai pertumbuhan jumlah peserta didik. Ada masa ketika sekolah menghadapi penurunan, tetapi ada pula periode ketika kepercayaan masyarakat meningkat dengan sangat kuat.

Sekitar 2009, misalnya, penerimaan peserta didik baru MTs Darul Fitri pernah berada pada kisaran 48 siswa. Angka tersebut menjadi tantangan tersendiri, terlebih pada periode-periode sebelumnya penerimaan siswa relatif tidak terlalu mengkhawatirkan.

Namun keadaan berubah dalam beberapa tahun berikutnya. Sekitar 2017, penerimaan peserta didik baru mencapai kisaran 220 siswa. Pada periode tersebut, jumlah keseluruhan peserta didik MTs Darul Fitri dari berbagai tingkatan bahkan menembus sekitar 680 siswa. Capaian itu menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan sekolah dan menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat pada saat itu.

Setelah 2017, terutama setelah pandemi Covid-19, dinamika kembali berubah. Penerimaan peserta didik baru cenderung bertahan pada kisaran 100 siswa setiap tahun, sementara jumlah keseluruhan peserta didik kelas VII hingga IX berada pada kisaran 300 siswa.

Kondisi tersebut tidak dapat dilihat dari satu faktor saja. Peta pendidikan di Kecamatan Leles dan wilayah sekitarnya telah banyak berubah. Lembaga pendidikan semakin tersebar hingga tingkat desa, pilihan masyarakat semakin beragam, persaingan antarsekolah semakin ketat, sementara kebijakan penerimaan peserta didik juga terus berkembang. Bagi madrasah swasta di bawah pembinaan Kementerian Agama, perubahan-perubahan tersebut menghadirkan tantangan yang harus dijawab melalui peningkatan kualitas dan penguatan kepercayaan masyarakat.

Meski demikian, kemampuan MTs Darul Fitri mempertahankan jumlah peserta didik pada kisaran tersebut tetap menjadi modal penting di tengah ketatnya kompetisi sekolah swasta. Ukuran keberhasilan tentu tidak semata-mata terletak pada banyaknya siswa. Namun dalam konteks keberlangsungan lembaga pendidikan swasta, kepercayaan masyarakat yang tercermin melalui jumlah peserta didik tetap menjadi salah satu indikator yang tidak dapat diabaikan.

Menjaga Warisan, Menjemput Masa Depan

Tantangan Darul Fitri hari ini tentu berbeda dengan tantangan KH Atje Abdur Rasjid dan para pendiri hampir empat dekade silam. Dahulu, persoalan utamanya adalah bagaimana memastikan peserta didik tetap memperoleh pendidikan ketika lembaga sebelumnya mengalami kesulitan. Kini tantangannya adalah bagaimana menjaga relevansi sekolah ketika masyarakat memiliki semakin banyak pilihan pendidikan.

Baca Juga:  Orang Cerdas Juga Bisa Salah Mengambil Keputusan, Ini Penyebabnya

Karena itu, nostalgia terhadap masa kejayaan saja tidak cukup. Sejarah justru seharusnya menjadi sumber energi untuk melakukan pembenahan. Pelayanan pendidikan, kualitas pembelajaran, kompetensi tenaga pendidik, sarana dan prasarana, pembinaan keagamaan, komunikasi dengan orang tua, hingga cara sekolah memperkenalkan keunggulannya kepada masyarakat harus terus diperkuat.

Langkah pengembangan itu mulai diperluas. Pada 2025, Yayasan Darul Fitri kembali membuka jenjang pendidikan lanjutan melalui pendirian MA Darul Fitri Leles. Kehadiran Madrasah Aliyah tersebut dapat dibaca sebagai upaya membangun kembali kesinambungan pendidikan di bawah naungan Darul Fitri, sekaligus membuka kesempatan bagi lulusan MTs untuk melanjutkan pendidikan dalam lingkungan yang memiliki semangat dan nilai pendidikan yang berkesinambungan.

Menjelang usia 40 tahun, MTs Darul Fitri kini berada pada momentum yang penting. Berbagai pembenahan pelayanan, kegiatan peserta didik, penguatan program, dan pengemasan pendidikan terus dilakukan. Targetnya tentu bukan sekadar mengejar kembali angka penerimaan siswa seperti pada masa puncak 2017, tetapi membangun lembaga yang mampu menjawab kebutuhan generasi baru tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Sebab, kejayaan sebuah sekolah pada akhirnya tidak cukup diukur dari berapa banyak siswa yang datang ketika penerimaan peserta didik baru dibuka. Kejayaan yang lebih kokoh lahir ketika masyarakat mempunyai alasan kuat untuk mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada lembaga tersebut.

Di titik itulah sejarah panjang Darul Fitri menemukan relevansinya. Para pendahulu telah memberi contoh bahwa lembaga ini lahir dari keberanian menjawab persoalan pendidikan pada zamannya. Ketika pelayanan pendidikan mengalami krisis, mereka tidak berhenti pada keprihatinan. Mereka mendirikan lembaga, mencari jalan memperoleh izin, menghimpun tokoh, menyediakan tempat belajar, dan memastikan anak-anak tetap bersekolah.

Semangat yang sama kini diwariskan kepada generasi penerus, meskipun bentuk tantangannya telah berubah.

Empat dekade perjalanan Darul Fitri pada akhirnya bukan sekadar kisah pergantian nama dari Al-Fitroh menjadi Darul Fitri. Jauh ke belakang, ada jejak PGA Ma’arif dan MTs Ma’arif Leles yang menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan keagamaan masyarakat setempat. Ada pula nama-nama yang mengorbankan pikiran, tenaga, jaringan, dan sebagian hidupnya agar pendidikan tersebut tidak berhenti di tengah jalan.

Menjelang empat dasawarsa Darul Fitri, sejarah itu patut kembali diingat bukan untuk sekadar mengenang masa lalu, melainkan untuk menentukan arah masa depan. Zaman boleh berubah, persaingan pendidikan boleh semakin ketat, dan pilihan masyarakat boleh semakin beragam. Namun satu hal semestinya tetap dipertahankan: semangat khidmah yang sejak masa PGA Ma’arif telah menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian kepada agama dan masyarakat.

Jika semangat itu mampu terus dirawat sekaligus diterjemahkan melalui mutu pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman, maka cita-cita mengembalikan kejayaan Darul Fitri bukan sesuatu yang mustahil. Bahkan lebih dari sekadar mengulang keberhasilan masa lalu, Darul Fitri mempunyai kesempatan untuk menulis babak baru sejarah pendidikan di Leles—berpijak pada akar Ma’arif, tumbuh bersama masyarakat, dan bergerak menghadapi masa depan.

Oleh: H. Rudi Sirojudin Abas

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran