Rahmat Tuhan: Ditunggu atau Dijemput?

|

Di tengah kehidupan masyarakat, kita kerap mendengar ungkapan, “Tunggu saja rahmat Tuhan.” Kalimat sederhana ini lahir dari keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Namun, dalam praktiknya, ungkapan tersebut sering melahirkan dua sikap yang sama-sama kurang tepat. Ada yang menjadikan rahmat Tuhan sebagai alasan untuk menunggu tanpa ikhtiar, sementara yang lain begitu mengagungkan usaha hingga merasa keberhasilannya semata-mata hasil jerih payahnya sendiri.

Padahal, keduanya berangkat dari pemahaman yang belum utuh tentang hakikat rahmat. Lalu, benarkah rahmat Tuhan hanya cukup ditunggu, atau justru harus dijemput?

Pertanyaan ini tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga filosofis. Ia menyentuh cara manusia memahami relasinya dengan Tuhan. Dalam tradisi Islam, rahmat bukanlah hadiah yang turun tanpa makna, melainkan sifat Allah yang menjadi fondasi keberlangsungan seluruh kehidupan. Karena itu, memahami rahmat tidak cukup hanya dari hasil yang diterima manusia, tetapi juga dari cara Allah menopang dan mengatur kehidupan sejak awal keberadaannya.

Para ulama menjelaskan bahwa rahmat jauh lebih luas daripada sekadar belas kasih. Rahmat mencakup karunia (tafaḍḍul), pemberian nikmat (in’ām), serta segala bentuk kebaikan (iḥsān). Bahkan, rahmat dipahami sebagai pembebasan manusia dari berbagai kesulitan sekaligus limpahan kebaikan yang terus mengiringi kehidupannya.

Dengan demikian, rahmat bukan sekadar peristiwa yang sesekali hadir ketika doa dikabulkan atau kesulitan teratasi. Rahmat adalah keadaan yang senantiasa menyelimuti seluruh eksistensi manusia.

Baca Juga:  Lalaki Langit, Lalanang Bejad: Ketika Candaan Seksis Dianggap Biasa

Makna ini semakin jelas bila ditinjau dari akar kebahasaan kata raḥmah yang berasal dari kata raḥim (rahim). Rahim adalah tempat seorang janin memperoleh perlindungan, makanan, dan kasih sayang sebelum lahir ke dunia. Janin tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupannya dipelihara, tetapi seluruh kebutuhannya telah dipenuhi.

Begitu pula manusia di hadapan Allah. Sebelum mampu berdoa, bahkan sebelum mengenal Tuhannya, rahmat Allah telah lebih dahulu menopang kehidupannya. Dari sinilah tampak bahwa rahmat bukan semata-mata respons Allah atas permintaan manusia, melainkan manifestasi kasih sayang-Nya yang telah mendahului segala sesuatu.

Al-Qur’an menegaskan, “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang berada di luar jangkauan rahmat Allah. Langit, bumi, tumbuhan, hewan, hingga manusia adalah manifestasi dari kasih sayang-Nya.

Bahkan, para ulama menjelaskan bahwa keberadaan manusia itu sendiri merupakan bentuk rezeki yang paling mendasar. Eksistensi adalah rahmat sebelum hadirnya berbagai nikmat lainnya. Seseorang mungkin kehilangan harta, jabatan, atau kesehatan, tetapi selama masih diberi kesempatan hidup, ia tetap berada dalam pelukan rahmat Allah.

Pandangan ini mengajarkan bahwa rahmat tidak boleh dipersempit hanya pada ukuran-ukuran material. Kekayaan, jabatan, dan kemudahan hidup hanyalah sebagian kecil dari bentuk rahmat. Akal yang sehat, ilmu yang bermanfaat, keluarga, kesempatan bertobat, bahkan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah merupakan rahmat yang sering kali luput dari perhatian.

Namun, Al-Qur’an tidak berhenti pada penjelasan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Allah juga berfirman, “Maka Aku akan menetapkannya bagi orang-orang yang bertakwa.” Ayat ini dipahami para ulama sebagai penjelasan adanya dua tingkatan rahmat.

Baca Juga:  ‎Dari Surau Sederhana Menuju Peradaban: Kisah Masjid Al Ubaidillah Gunung Engang Mencetak Generasi Qurani untuk Masa Depan Bangsa

Pertama, rahmat yang bersifat umum (raḥmāniyyah), yakni rahmat yang diberikan kepada seluruh makhluk tanpa memandang keimanan maupun kekufurannya. Kedua, rahmat yang bersifat khusus, yaitu rahmat yang Allah anugerahkan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai bentuk kedekatan dan kemuliaan di sisi-Nya.

Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam. Allah membuka pintu rahmat bagi seluruh makhluk, tetapi ada bentuk rahmat yang hanya dapat diraih melalui ketakwaan.

Pemahaman ini sekaligus mengoreksi anggapan bahwa cukup berharap tanpa bergerak sudah merupakan bentuk tawakal. Dalam khazanah akhlak Islam dijelaskan bahwa rajā’ (harapan kepada Allah) merupakan sifat yang terpuji selama melahirkan kesungguhan. Ketika harapan berubah menjadi angan-angan tanpa usaha, ia justru menjadi bentuk kelalaian.

Harapan sejati selalu melahirkan ikhtiar. Orang yang berharap lulus akan belajar. Orang yang berharap sembuh akan berobat. Orang yang berharap memperoleh rahmat Allah akan memperbaiki amal, memperdalam ilmu, dan memperkuat ketakwaannya.

Begitu pula dengan doa. Banyak orang memahami doa sekadar sebagai sarana meminta sesuatu kepada Allah. Padahal, hakikat doa lebih dalam daripada itu. Doa adalah pengakuan bahwa manusia tidak pernah benar-benar mampu berdiri sendiri.

Ketika seorang hamba mengucapkan “Allāhumma”, ia sedang menegaskan keterbatasannya di hadapan Tuhan Yang Mahasempurna. Doa bukanlah upaya mengubah kehendak Allah, melainkan proses mengubah kesadaran manusia agar semakin menyadari bahwa setiap keberhasilan adalah karunia, bukan semata hasil kecerdasannya.

Baca Juga:  Jurnalis: Manusia Rentan dengan Amanah Besar

Dalam perspektif Islam, rezeki pun tidak hanya dimaknai sebagai harta atau makanan. Rezeki mencakup kemampuan berpikir, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, akal sehat, hingga kemampuan memahami kebenaran. Semua itu merupakan bentuk rahmat yang nilainya jauh lebih besar daripada kekayaan yang bersifat sementara.

Ironisnya, manusia sering merasa belum memperoleh rahmat hanya karena ukuran materi belum terpenuhi. Padahal, setiap hari ia menikmati limpahan rezeki intelektual, spiritual, dan moral yang memungkinkan dirinya terus bertumbuh sebagai manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan apakah rahmat Tuhan ditunggu atau dijemput menemukan jawabannya sendiri. Rahmat tetap merupakan anugerah Allah yang tidak dapat dipaksa oleh usaha manusia. Namun, anugerah itu juga bukan alasan untuk bersikap pasif.

Rahmat dijemput melalui doa yang tulus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, pencarian ilmu yang tidak pernah berhenti, serta ketakwaan yang terus dipelihara. Menunggu rahmat berarti meyakini kasih sayang Allah. Menjemput rahmat berarti membuktikan keyakinan itu melalui tindakan.

Di situlah letak kebijaksanaan seorang mukmin: tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, tetapi juga tidak pernah berhenti berjalan menuju rahmat-Nya.

Referensi: Ja’far bin Muhammad Naqdī, Asrār al-‘Ārifīn fī Syarḥ Kalām Amīr al-Mu’minīn: Syarḥ Du’ā’ Kumayl, tahqīq Farīd Ḥusūnah.

Oleh: Robi Sugara – Penulis adalah Kepala Sekolah Filsafat Averroes dan Pengajar Pondok Pesantren Al-Mubarok

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran