Ketika Konten Medsos Pemimpin Tak Bisa Menawar Harga Sembako

|

KURSI dan meja-meja di Komplek Perkantoran Pemerintahan Negeri Konoha telah tersusun rapi, seolah menyimpan seluruh kehangatan Negeri Konoha di dalamnya. Cahaya lampu menumpu lembut di wajah sang Pemimpin, sementara grafik di layar bergerak tenang, menggambarkan kestabilan yang begitu indah, seolah keresahan harga hanyalah bayangan yang tak nyata.

Dengan nada bicara yang lembut dan merangkul, beliau mengucap: “Konoha Istimewa.” Kata-kata itu terasa begitu dekat, seolah sedang berbisik di telinga setiap warga. Padahal tak jauh dari sana, sebungkus nasi sederhana di meja sampingnya diam memendam kenyataan: harganya baru saja naik, perlahan namun pasti menjauh dari genggaman banyak orang.

Tak lama kemudian, pesona itu menyebar ke seluruh layar ponsel. Potret dan video disusun dengan penuh perhatian: gerakan yang tertata rapi, senyum yang disiapkan dengan hati-hati, pertemuan singkat di pasar yang tampak begitu menyentuh. Di bawah unggahan tertulis manis: “Tenanglah dulur, aku ada di sini, memastikan kebutuhan kalian tetap terjangkau.”

Baca Juga:  Dimana Relawan Saat Om Zein Diterpa Polemik?

Namun di balik lensa, sang pedagang hanya bisa menatap dagangannya dengan gelisah. Ia mendengar janji itu, namun tak merasakan perubahan yang meringankan beban bahunya.

Kadang terlihat pula pesan singkat yang dikirim dini hari, bukti kesetiaan yang tampak begitu tulus untuk para kepala dinas dan pejabat di negeri tersebut.

“Segera tangani keluhan harga ini,” tulisnya tegas. Pesan itu dipuji, dikagumi, disebarkan luas. Namun saat pagi berganti sore, harga telur, daging dan beras di pasar tetap berdiri tegak, tak tergoyahkan oleh seindah apapun tulisan di layar.

Baca Juga:  Sikap Relawan di Tengah Badai Kritik: Loyalitas Tidak Boleh Membunuh Kebenaran

Ada pula foto tenang di pinggir warung, dengan sapaan yang berusaha menyatukan hati: “Perjuanganmu adalah perjuanganku.” Ribuan ucapan dukungan mengalir masuk, seolah semua kesulitan telah luruh begitu saja. Padahal mereka yang memuji itu, pulang dengan langkah berat, menyadari bahwa isi tas belanja mereka makin sedikit dibanding hari-hari sebelumnya.

Kita diajak jatuh cinta pada sebuah cerita yang tampak sempurna. Di dalam layar, semuanya terasa dekat, hangat, dan penuh kepedulian. Namun saat layar meredup, kenyataan menyapa dengan dingin yang tak bisa disembunyikan.

Pasar tak mengenal keindahan angle foto. Harga tak luluh oleh kata-kata yang disusun puitis. Dan perut yang lapar tak bisa kenyang hanya dengan seberapa sering seseorang berkata “aku ada untukmu”.

Baca Juga:  Ketika Nasihat Tak Lagi Sampai: Demonstrasi Damai dalam Perspektif Ushul Fiqh

Ada kebenaran yang tak bisa dibohongi: kemakmuran tak bisa dibangun hanya dengan pesona di media sosial. Jika setiap unggahan bisa menurunkan harga, mungkin Negeri Konoha sudah menjadi tempat yang paling nyaman untuk hidup. Sayangnya, realitas tak berjalan seperti alur cerita di layar.

Yang dibutuhkan rakyat bukanlah pemimpin yang pandai merayu hati. Mereka hanya butuh pemimpin yang berani memeluk kenyataan, bekerja menembus keruwetan di lapangan, dan memastikan bahwa kata “istimewa” itu bukan sekadar janji manis di bibir, tapi benar-benar terasa di atas setiap meja makan warganya.

Maman Rusmana
Penulis adalah Penggiat Medsos di Purwakarta.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran