Muktamar NU di Lirboyo, Menyempurnakan langkah Islah untuk Wibawa Jam’iyah

|

PESANTREN Lirboyo yang berdiri dan didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manab) sejak tahun 1910 M adalah Pesantren Salafiyah yang berdiri kokoh dengan segala dinamikanya. Perkembangan Lirboyo begitu luar biasa. Sebuah pesantren di pinggiran Kota Kediri yang menjelma menjadi pesantren yang saat ini jumlah santrinya kurang lebih 50.000 orang. Mereka datang dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan tidak sedikit dari luar negeri, khususnya Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan lainnya.

Lirboyo hari ini adalah lembaga pesantren yang begitu besar. Sebuah lembaga yang saat ini menyediakan sekian banyak pilihan pendidikan baik takhosus keagamaan ataupun pendidikan umum, tapi tidak pernah meninggalkan akar salafiyahnya sebagai bentuk dan model pendidikan yang menginspirasi banyak pesantren di Indonesia.

Lirboyo hadir dengan sekian banyak keunggulan dan prestasinya khususnya alumni-nya banyak mengisi lembaga-lembaga Batsul Masail di seluruh kepengurusan NU di berbagai belahan Nusantara, dan juga banyak mengisi posisi kepengurusan di NU, hal ini tentu beririsan langsung dengan seruan para pengasuh Lirboyo, demi untuk terus bisa berkhidmat dan melestarikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang sangat kental. Tidak jarang para pengasuh Lirboyo mengharuskan santri dan alumninya untuk bisa aktif di Nahdlatul Ulama di tingkatan apa pun.

KH Mahrus Ali adalah salah satu tokoh NU yang sangat disegani. Beliau adalah generasi kedua Pondok Pesantren Lirboyo yang pernah ditawari dan diharapkan mau melanjutkan kepemimpinan NU menjadi Rais Aam PBNU pasca wafatnya KH Bisri Sansuri dari Pesantren Denanyar Jombang, tapi dengan kerendahan hatinya beliau menolak karena merasa masih banyak ulama lainnya yang lebih alim. Tentu ini bukan berarti KH Mahrus Ali tidak mampu, tapi itulah bentuk ketawaduan yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Sebab, jabatan tersebut adalah amanah yang besar dan harus bisa dijaga dengan baik.

Islah: Titik Temu di Tengah Badai

Sekali lagi, Lirboyo di tengah badai (konflik PBNU) mengambil sikap tegas untuk menawarkan diri sebagai tempat islah. Hal itu adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah. Walaupun tidak semua orang mau berislah, paling tidak Lirboyo dan para pengasuhnya serta beberapa sesepuh NU menyediakan diri sebagai tempat Islah, yang seharusnya dan diharapkan menjadi ruang sangat terhormat bagi siapa pun yang merasa berkonflik. Di situlah semua bisa dimusyawarahkan dan hasilnya juga sangat baik serta positif untuk kebaikan Jamaah dan Jam’iyah. Walaupun di kemudian hari belum bisa dijalankan dengan baik karena adanya pihak yang belum bisa menerima dengan lapang dada atau legawa, malah sebaliknya sebagian orang terus membuat gaduh hanya untuk kepentingannya sendiri.

Keberanian Pondok Pesantren Lirboyo Kediri menjadi jembatan islah tentu tidak bisa dipandang sebelah mata, di mana di sisi lain banyak yang diam dan mencari aman karena tidak mau ikut terlibat menyelesaikan masalah yang terjadi. bahkan, malah ada sebagian yang terus mengompori dan sebaliknya menyudutkan Lirboyo dengan berbagai dalih. Padahal, sangat jelas tujuannya bahwa islah adalah jalan tengah terbaik dan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah yang membuat gaduh selama ini.

Baca Juga:  Kita, Tembok dan Bunga-bunga – Seri 1

Tabayun sangat diperlukan untuk menjernihkan masalah dan mencari jalan keluar, agar tidak terjadi fitnah dan saling tueuh satu sama lain yang merasa paling benar, selalu ada ada jalan tengah walaupun, masih ada pihak yang merasa terzalimi dan merasa disudutkan tanpa melihat fakta yang sebenarnya.

Sikap Lirboyo yang memilih menjadi penengah di saat situasi sedang memanas sebenarnya mencerminkan fungsi hakiki pesantren sebagai “rumah besar” bagi seluruh warga Nahdliyin. Di saat egosentrisme dan syahwat politik membutakan kejernihan berpikir, pesantren harus berani menarik urat ketegangan itu ke meja runding. Mengambil posisi sebagai jembatan islah tentu memiliki konsekuensi tidak populer; ia rentan disalahpahami oleh pihak-pihak yang bertikai. Namun, Lirboyo membuktikan bahwa menjaga keutuhan Jam’iyah jauh lebih utama daripada sekadar menjaga citra aman di mata publik.

Fenomena bungkamnya beberapa elemen strategis NU dalam konflik ini juga menjadi otokritik yang tajam. Ketika banyak pihak memilih menjadi penonton yang pasif, atau bahkan memperkeruh suasana di balik layar, Lirboyo justru melangkah ke depan mengorbankan kenyamanannya demi mengetuk kesadaran kolektif organisasi. Islah yang ditawarkan merupakan sebuah ikhtiar batiniah untuk mengembalikan muruah PBNU yang kian hari kian dipertanyakan oleh umat di akar rumput akibat kegaduhan yang tak kunjung usai.

Oleh sebab itu, menolak atau meremehkan ruang islah yang telah dibuka secara terhormat oleh Lirboyo sebenarnya adalah bentuk pengingkaran terhadap tradisi musyawarah yang diwariskan oleh para pendiri NU. Pihak-pihak yang terus memproduksi narasi konflik dan enggan duduk bersama untuk tabayun, lambat laun akan terseleksi oleh sejarah. Pada akhirnya, publik akan melihat dengan sangat jelas: mana kelompok yang benar-benar tulus memikirkan keselamatan Jam’iyah, dan mana para petualang politik yang hanya memanfaatkan NU demi langgengnya kepentingan pribadi dan orang-orang dekatnya.

Lirboyo dan Tanggung Jawab Moral

Lirboyo sebagai sebuah pesantren yang mengajukan tempat muktamar atau tuan rumah tentu sudah mempertimbangkan matang-matang dengan segala konsekuensinya. Berkumpulnya para sesepuh NU saat islah di Lirboyo yang tergabung sebagai Mustasyar PBNU tentu bukan sesuatu yang kebetulan. Semangat kebersamaan dan dukungan para sesepuh tentu sudah melalui pertimbangan dan istikharah yang dilakukan para sesepuh NU. Ini menandakan bahwa Lirboyo, di tengah badai dan kegaduhan yang terjadi di NU, mengambil risiko yang besar.

Proses itu bukan sesuatu yang hanya bisa dilihat dari satu sudut pandang, melainkan proses yang begitu istikamah dan konsisten. Jaringan alumni yang begitu kuat dan upaya para pengasuh, alumni, serta santri Lirboyo yang siap berjuang dan menyatu dalam satu tarikan napas, berkhidmat, membumikan Ahlussunnah wal Jamaah di Bumi Nusantara dan dunia internasional. Lirboyo adalah tempat di mana ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Nahdlatul Ulama begitu kuat ditanamkan kepada santri.

Baca Juga:  Kurban APBN dan Ilusi Kesejahteraan Rakyat

Menjadi adil rasanya kalau Lirboyo dijadikan tempat muktamar karena proses yang begitu kuat dalam perjalanan kepengurusan PBNU saat ini.
Kalau ada suara-suara sumbang, rasanya itu kecil sekali, yang memang disuarakan orang-orang yang selama ini hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya yang selalu ingin membuat gaduh di tubuh Nahdlatul Ulama. Mereka adalah sekelompok benalu yang takut kehilangan kesempatan untuk menguasai NU sebagai pijakan atas kekuasaan yang selalu ingin digenggamnya tanpa melihat kepentingan jamaah dan jam’iyah yang lebih luas lagi. Mereka selalu mencari kegaduhan karena tanpa itu mereka akan kehilangan dirinya sendiri. Namun yakinlah, NU tanpa mereka akan tetap jaya, menghebat, dan malah akan semakin maju serta mendunia. Ya Qohar Ya Jabaar…

Khidmah Kebangsaan dari Pesantren

Langkah kaki Pesantren Lirboyo dalam menjembatani islah dan menawarkan diri sebagai episentrum rekonsiliasi adalah manifestasi nyata dari khidmah kebangsaan yang melekat pada rahim pesantren sejak republik ini belum berdiri. Ketika sebuah organisasi sebesar Nahdlatul Ulama diguncang badai internal, stabilitas sosial dan keagamaan bangsa ikut dipertaruhkan. Di sinilah pesantren hadir, mengambil tanggung jawab moral untuk meredam riak yang berpotensi membelah umat.

Sejarah telah mencatat bahwa pesantren tidak pernah mengisolasi diri dari dinamika zaman. Ketika Lirboyo membuka pintunya bagi para sesepuh dan pihak-pihak yang berselisih, ia sedang memperagakan fungsi klasiknya sebagai cultural broker sekaligus benteng pertahanan sosial. Khidmah kebangsaan dalam konteks hari ini tidak lagi berupa angkat senjata, melainkan keberanian menjadi ruang netral yang teduh di tengah panasnya syahwat politik kekuasaan yang rawan memecah belah.

Oleh karena itu, jika hari ini Lirboyo didorong dan dipersiapkan menjadi tuan rumah Muktamar NU ke 35 diawal Agusfus 2026, hal itu harus dibaca sebagai upaya mengembalikan NU ke khitah pengabdiannya yang sejati. Pesantren adalah ruang di mana ego kelompok dilebur dan kepentingan jamaah (umat) serta jam’iyah (organisasi) diletakkan di atas segalanya. Dari Lirboyo, pesan itu bergaung jelas: NU harus mandiri, berwibawa, dan tetap menjadi jangkar perdamaian bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tentu, jalan khidmah ini tidak pernah sunyi dari ujian. Upaya Lirboyo untuk menstabilkan nahkoda PBNU pasti akan berhadapan dengan resistensi dari pihak-pihak yang kenyamanan politiknya terganggu. Namun, sebagai lembaga yang telah berusia lebih dari satu abad, Lirboyo telah kenyang oleh asam garam sejarah. Kritik, tudingan berpihak, hingga suara-suara sumbang dari luar tidak akan menyurutkan langkah para pengasuh untuk terus mengawal agar NU tetap konsisten pada jalur pengabdian keummatan dan kebangsaan.

Pada akhirnya, khidmah kebangsaan dari pesantren adalah tentang konsistensi menjaga warisan para pendiri bangsa. Ketika struktur formal organisasi mengalami kebuntuan atau bahkan disorientasi, maka struktur kultural pesantrenlah yang wajib turun tangan melakukan koreksi dan restorasi. Langkah Lirboyo adalah alarm pengingat bagi kita semua, bahwa NU dibentuk bukan untuk mengejar kekuasaan sekuler, melainkan untuk mengabdi pada agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Baca Juga:  Program Swasembada Pangan untuk Siapa?

Menjaga Sanad Sanubari Nahdlatul Ulama

Di balik seluruh dinamika organisasi, pelaksanaan muktamar, hingga urusan islah yang menguras energi, ada satu fondasi yang tidak boleh luruh dari tubuh Nahdlatul Ulama, yaitu sanad sanubari. NU merupakan sebuah gerakan spiritual yang diikat oleh tali batin para ulama. Kekuatan utama NU terletak pada kesucian niat, ketawaduan para masyayikh, dan restu spiritual yang lahir dari sujud-sujud panjang di sepertiga malam.

Apa yang dicontohkan oleh KH Mahrus Ali di masa lampau—ketika beliau menolak jabatan Rais Aam demi menghormati ulama yang dianggapnya lebih alim—adalah cerminan dari sanad sanubari yang sejati. Watak ketawaduan seperti inilah yang hari ini mulai langka dan tergerus oleh ambisi kelompok-kelompok oportunis. Menjaga sanad sanubari berarti mengembalikan watak asli NU yang menempatkan akhlak di atas politik, dan menempatkan rasa takut kepada Allah di atas ketakutan kehilangan jabatan.

Berkumpulnya para sesepuh dan Mustasyar PBNU di Pesantren Lirboyo beberapa waktu lalu, yang diiringi dengan riyadah serta istikharah, adalah bukti bahwa jalur spiritual ini tidak pernah putus.

Keputusan-keputusan besar di NU tidak bisa diambil hanya berdasarkan kalkulasi matematis atau lobi-lobi hotel mewah, melainkan harus lahir dari kejernihan hati nurani yang bersambung (tasharruf) kepada para muassis (pendiri) NU. Lirboyo sedang mengingatkan kita semua untuk kembali mengetuk pintu langit di tengah kegaduhan bumi.

Maka, suara-suara sumbang yang terus memproduksi kegaduhan di tubuh NU sebenarnya adalah mereka yang telah terputus dari sanad sanubari ini. Mereka adalah sekelompok benalu yang memandang NU hanya sebagai kendaraan politik dan pijakan untuk meraih kekuasaan personal. Tanpa adanya kegaduhan, mereka kehilangan panggung. Namun, sejarah selalu membuktikan bahwa NU memiliki mekanisme spiritualnya sendiri untuk membersihkan diri dari anasir-anasir perusak yang tidak ikhlas dalam berkhidmah.

Yakinlah, dengan tetap terjaganya sanad sanubari yang dikawal oleh pesantren-pesantren salaf seperti Lirboyo (dan ribuan pesantren lainnya), Nahdlatul Ulama, Aswaja, dan Indonesia akan tetap jaya, menghebat, dan membumi. Badai konseptual maupun politik formal boleh saja menerpa struktur organisasi, namun akar kultural NU yang tertanam kuat di sanubari para santri dan kiai tidak akan pernah bisa digoyahkan. Dari pesantren untuk dunia, NU akan terus melangkah maju membawa amanah peradaban dengan hati yang bersih dan pikiran yang sehat.

 

Adhe HM. Musa Said

Penulis adalah Pengurus LPP PBNU, KoorNas JAM PMII, Santri Ndableg Pesantren Lirboyo, Ketua Senat STAI Al Badar Pesantren Cipulus Purwakarta.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran