Dimana Relawan Saat Om Zein Diterpa Polemik?

|

KONTROVERSI yang menimpa Om Zein, mulai dari polemik dugaan Rp 35 Miliar hingga kontroversi lagu Lalaki Langit, tidak hanya menguji kapasitas seorang pemimpin menghadapi kritik.

Peristiwa-peristiwa tersebut juga menguji kualitas orang-orang atau para pihak yang selama ini mengaku sebagai relawan dan pendukungnya.

Dalam politik, relawan bukan sekadar tim yang bekerja saat kampanye atau menjadi corong ketika pemimpin menuai pujian. Relawan adalah bagian dari ekosistem politik yang semestinya tetap hadir ketika pemimpin menghadapi tekanan.

Jika pada masa kemenangan mereka paling lantang menyuarakan dukungan, maka pada saat badai kritik datang mereka seharusnya juga tampil memberikan penjelasan, membuka ruang dialog, atau setidaknya mendampingi pemimpin menghadapi krisis opini.

Baca Juga:  DEPOK 27: Saatnya Lompat, Bukan Sekedar Jalan

Namun, yang terlihat di ruang publik justru sebaliknya. Baik ketika polemik dugaan Rp 35 Miliar mencuat maupun saat kontroversi Lalaki Langit menjadi perhatian publik, narasi lebih banyak didominasi oleh pihak-pihak yang mengecam.

Sementara itu, suara relawan yang mampu menghadirkan penjelasan secara argumentatif atau membangun diskusi yang sehat tidak tampak menonjol. Akibatnya, ruang publik berkembang dengan dominasi satu arus narasi.

Situasi ini memunculkan pertanyaan yang layak diajukan: di mana para relawan ketika pemimpinnya menghadapi kontroversi?

Di tengah kondisi tersebut, berkembang pula persepsi di masyarakat bahwa sebagian relawan lebih sibuk membicarakan kedekatan dengan kekuasaan, akses terhadap proyek, atau kepentingan politik masing-masing daripada menjalankan fungsi pendampingan politik.

Baca Juga:  Tarbiyatul Ijtima’ dan Pencarian Kalimatun Sawa’

Terlepas dari benar atau tidaknya persepsi itu, kesan tersebut mudah muncul ketika relawan tidak terlihat mengambil peran dalam menjelaskan isu yang sedang dihadapi pemimpinnya.

Tentu relawan tidak wajib membela setiap tindakan seorang pemimpin. Bahkan, relawan yang baik harus berani menyampaikan kritik apabila memang ada kekeliruan. Akan tetapi, memilih diam bukanlah bentuk pendampingan politik. Loyalitas tidak berarti membenarkan semua tindakan, melainkan tetap hadir ketika situasi menjadi sulit.

Relawan sejati tidak diukur dari seberapa sering mengunggah foto bersama pemimpin, menghadiri seremoni, atau menikmati euforia kemenangan politik.

Baca Juga:  Apakah Ini Sudah Benar Cara Mengurus Negara?

Relawan sejati diuji ketika risiko datang. Mereka hadir untuk menjaga ruang dialog, memberikan argumentasi yang rasional, meluruskan informasi yang keliru, sekaligus menjadi pengingat bagi pemimpin agar tidak kehilangan arah.

Kontroversi pada akhirnya bukan hanya mengungkap kualitas seorang pemimpin, tetapi juga kualitas orang-orang yang berada di sekelilingnya. Sebab ketika badai datang, publik akan melihat dengan jelas siapa yang benar-benar berdiri di samping pemimpin karena komitmen, dan siapa yang hanya berdiri di dekat kekuasaan selama cuaca politik masih cerah.

M. Asep Budiana
Penulis adalah Ketua Cabang HMI Purwakarta.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran