Sering Kentut, Normal atau Tanda Gangguan Kesehatan? Ini Penjelasan Ahli

|

GUGAH – Kentut merupakan proses alami tubuh untuk mengeluarkan gas dari saluran pencernaan. Frekuensinya dapat berbeda pada setiap orang, dipengaruhi oleh pola makan, kebiasaan sehari-hari, hingga kondisi kesehatan tertentu.

Konsumsi makanan tinggi serat, minuman berkarbonasi, kebiasaan mengunyah permen karet, maupun makan terlalu cepat dapat meningkatkan produksi gas di dalam usus.

“Pola makan dapat memiliki dampak terbesar pada gas karena hal yang sama yang memberi makan bakteri usus anda juga memberi makan kentut anda serat,” kata ahli gizi Amanda Sauceda, M.S., RD dalam siaran Eating Well pada Sabtu (27/6) waktu setempat.

Sauceda menjelaskan bahwa serat merupakan bagian dari karbohidrat yang tidak dapat dicerna tubuh. Serat akan mencapai usus besar dan difermentasi oleh bakteri usus, sebuah proses yang menghasilkan gas.

Baca Juga:  Lakukan 5 Hal Ini Setiap Pagi, Tips Ampuh untuk Tubuh Bugar dan Awet Muda

Semakin tinggi asupan serat, produksi gas umumnya ikut meningkat. Namun, kondisi tersebut biasanya hanya bersifat sementara karena tubuh akan beradaptasi dengan pola makan yang lebih kaya serat.

Oleh karena itu, peningkatan konsumsi serat sebaiknya dilakukan secara bertahap agar sistem pencernaan memiliki waktu untuk menyesuaikan diri.

Sementara itu, Ahli Gastroenterologi dari Atlantic Coast Gastroenterology Associates, Sandhya Shukla, MD, mengatakan sejumlah kebiasaan juga dapat menyebabkan penumpukan gas di saluran cerna, seperti makan terlalu cepat, mengunyah permen karet, mengonsumsi minuman berkarbonasi, hingga makan dengan mulut terbuka.

Kebiasaan tersebut membuat lebih banyak udara masuk ke saluran pencernaan sehingga dapat memicu perut kembung dan meningkatnya frekuensi kentut.

Baca Juga:  Asli Ciamis ! Najwa Akan Tampil di Ajang Putri Hijabfluencer Indonesia 2026

Selain faktor pola makan dan kebiasaan, beberapa kondisi medis juga dapat menyebabkan produksi gas berlebih.

“Gas usus yang berlebihan dapat disebabkan oleh infeksi SIBO, kondisi seperti intoleransi laktosa dan penyakit celiac, perubahan gerakan usus terutama penurunan motilitas usus, yang dapat terlihat pada diabetes atau penurunan penyerapan gas karena sembelit,” ujar Shukla.

Menurutnya, gangguan-gangguan tersebut memengaruhi proses pencernaan dan pergerakan makanan di dalam usus sehingga dapat meningkatkan frekuensi kentut.

Dia menambahkan kentut adalah pelepasan gas dari sistem pencernaan melalui rektum/anus. Kentut terjadi karena gas terus menumpuk di saluran pencernaan dan harus dikeluarkan untuk menjaga homeostasis.

Secara umum, orang dewasa yang sehat mengeluarkan gas sekitar 10 hingga 20 kali setiap hari, dengan volume total sekitar 500 hingga 1.500 mililiter.

Baca Juga:  Kesehatan Mental: Pengertian, Manfaat, Cara Menjaga, Tanda Gangguan, dan Tips Menjaga Mental Health

Merujuk pada sebuah studi tahun 2026, kentut berlebihan didefinisikan sebagai frekuensi lebih dari 20 kali sehari. Sauceda menyebut bahwa lebih dari 25 kali kentut dalam sehari dapat dianggap tidak normal.

Meski demikian, frekuensi kentut bukan satu-satunya indikator kesehatan. Perubahan bau kentut yang mencolok atau munculnya gejala lain seperti nyeri perut, kembung, maupun gangguan pencernaan perlu mendapat perhatian.

Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan ke tenaga kesehatan disarankan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya. Namun, bagi sebagian besar orang, variasi frekuensi kentut setiap hari masih merupakan hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran