GUGAH – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menyusun Piagam Nilai-Nilai Keulamaan sebagai upaya mempertegas standar dan kriteria ulama di tengah maraknya fenomena figur keagamaan yang populer di ruang publik, namun dipersoalkan kapasitas keilmuannya.
Langkah tersebut dibahas dalam Halaqah Penyusunan Piagam Nilai-Nilai Keulamaan yang digelar di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengatakan piagam tersebut disiapkan sebagai panduan bagi masyarakat untuk memahami kriteria keulamaan dalam tradisi Islam, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Untuk menandai siapa sih yang ulama, dan ulamanya itu sekelas apa,” ujar Gus Yahya dikutip Gugah.co dari NU Online pada Senin (8/6).
Menurut PBNU, keulamaan tidak cukup hanya diukur dari popularitas, penampilan, atau kemampuan berbicara di hadapan publik. Dalam tradisi pesantren dan Ahlussunnah wal Jamaah, status ulama dibangun melalui proses panjang yang mencakup kedalaman ilmu, sanad keilmuan yang jelas, integritas moral, serta pengakuan dari komunitas keilmuan.
Fenomena munculnya tokoh agama yang cepat populer tanpa rekam jejak keilmuan yang memadai dinilai berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Katib Syuriyah PBNU, KH Nurul Yaqin Ishaq, menilai saat ini terjadi pengaburan terhadap makna dan atribut keulamaan.
“Ada orang yang sesungguhnya tidak punya kapasitas keilmuan keagamaan yang memadai, tapi dia memakai pakaiannya ulama,” kata KH Nurul Yaqin.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan membedakan antara ulama yang lahir dari tradisi keilmuan yang kuat dengan figur yang hanya mengandalkan simbol-simbol keagamaan.
PBNU memandang kehadiran Piagam Nilai-Nilai Keulamaan penting untuk menjaga marwah ulama sekaligus memberikan pedoman yang jelas kepada masyarakat dalam menilai otoritas keagamaan.
Dokumen tersebut telah disepakati sebagai salah satu bahan pembahasan dalam Musyawarah Nasional (Munas) NU dan akan dibawa ke forum yang lebih tinggi untuk disempurnakan.
Melalui langkah ini, PBNU ingin menegaskan bahwa keulamaan bukan sekadar soal penampilan atau popularitas, melainkan perpaduan antara kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, sanad keilmuan yang jelas, dan pengabdian kepada umat.***



Tinggalkan Balasan