GUGAH – Mengisi hari libur dengan aksi nyata yang berdampak, sejumlah komunitas pemuda di Kabupaten Cianjur menggelar kolaborasi kreatif bertajuk Membaca Buku Gratis (MBG) dan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Kegiatan yang mengusung tema “Silent Reading, Sharing Session, and Care Moment” ini dilaksanakan di Taman Prawatasari Joglo, Kabupaten Cianjur, pada Senin (1/6/2026).
Aksi inspiratif ini diinisiasi oleh tiga elemen pemuda lintas fokus, yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jelajah Alam Bebas Al-Azhary Cianjur (Jabal), Komunitas Bentala, dan Komunitas Bebek Parapatan (motor klasik). Acara ini dihadiri oleh para pengurus, anggota masing-masing komunitas, serta masyarakat umum yang sedang berkunjung ke area taman.
Mengisi Pikiran, Membersihkan Lingkungan
Rangkaian kegiatan dimulai dengan agenda silent reading (membaca dalam sunyi) di mana panitia menyediakan buku gratis untuk dibaca bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sharing session (ruang diskusi) untuk memaparkan isi bacaan, dan ditutup dengan aksi nyata menyisir area Taman Prawatasari untuk memungut sampah yang berserakan.
Perwakilan dari UKM Jabal Al-Azhary, Isan Sanusi yang akrab disapa Ipong, menjelaskan bahwa esensi membaca tidak hanya berhenti untuk diri sendiri, melainkan bagaimana ilmu tersebut bisa dibagikan kepada orang lain.
“Membaca buku itu bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan bagaimana kita bisa memaparkan kepada teman-teman apa yang kita baca. Sementara untuk GPS, ini adalah hal yang luar biasa. Kami bergerak mengurangi sampah yang berserakan, memastikan tempat yang sejatinya bersih ini benar-benar terbebas dari sampah,” ujar Ipong.
Filosofi Tangan Mulia dan Refleksi Diri
Pandangan filosofis yang menyentuh datang dari perwakilan Komunitas Bebek Parapatan, Icas. Ia mengibaratkan membaca buku seperti mengumpulkan bekal hidup, sedangkan memungut sampah adalah upaya menyingkirkan mudarat (bahaya).
“Orang mulia itu tangannya dua: kanan memegang ilmu, kiri mengangkat kotoran. Buku yang berdebu sama seperti hati yang sepi cahaya, dan jalan yang berserakan sampah adalah cerminan iman yang lalai bersedekah. Keduanya mengajarkan kita bahwa hal kecil jika diabaikan akan menjadi besar dan menyesakkan,” ungkap Icas penuh makna.
Ia juga menitipkan harapan mendalam agar setiap huruf yang dibaca dan setiap sampah yang dipungut dapat menjadi saksi kebaikan kelak. “Semoga kita wafat dalam keadaan lisan basah dengan ilmu, dan bumi bersih karena jejak kita,” tambahnya.
Habit Positif untuk Titipan Masa Depan
Sementara itu, perwakilan dari Komunitas Bentala, Nandar, menekankan pentingnya membangun kolaborasi berkelanjutan demi memutus rantai kebiasaan buruk masyarakat terkait sampah.
“Hari ini kita hadir untuk membentuk kolaborasi dalam kepedulian literasi dan lingkungan. Perlu diingat bahwa sampah tidak lahir sendiri, melainkan ada tangan-tangan manusia yang membangun habit (kebiasaan) buruk. Padahal, tanah atau bumi ini bukanlah warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu kita nanti,” tegas Nandar.
Melalui kegiatan ini, ketiga inisiator berharap dapat membentuk karakter dan kebiasaan positif di tengah masyarakat. Kolaborasi inovatif ini membuktikan bahwa komunitas motor klasik, pencinta alam, dan pegiat literasi bisa berjalan beriringan untuk memberikan dampak nyata bagi Kabupaten Cianjur.*


Tinggalkan Balasan