GUGAH – Pemerintah terus mencari cara untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang kian membebani keuangan negara. Di tengah tingginya konsumsi masyarakat, nilai impor LPG nasional kini mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, Indonesia menghabiskan sekitar Rp137 triliun per tahun untuk memenuhi kebutuhan LPG nasional. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp80 triliun hingga Rp87 triliun harus ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi.
“Setiap tahun devisa yang keluar untuk impor LPG mencapai Rp137 triliun. Dari jumlah itu, negara harus menanggung subsidi antara Rp80 sampai Rp87 triliun,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah karena kebutuhan LPG nasional terus meningkat, sementara produksi dalam negeri masih jauh dari mencukupi.
Saat ini kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun produksi domestik hanya berada di kisaran 1,6 hingga 1,7 juta ton dari kapasitas terpasang sebesar 1,9 juta ton. Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahun.
Harga LPG Non-Subsidi Naik
Seiring tingginya tekanan biaya energi, PT Pertamina (Persero) telah menyesuaikan harga LPG non-subsidi ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram sejak 18 April 2026.
Mengutip laman CNBC Indonesia harga LPG 12 kg kini mencapai Rp245.000 per tabung atau naik Rp35.000 dibandingkan sebelumnya.
Sementara LPG Bright Gas 5,5 kg dijual sekitar Rp125.000 hingga Rp130.000 per tabung, meningkat sekitar Rp20.000 dari harga lama.
Meski demikian, LPG subsidi 3 kg masih dijual dengan harga relatif stabil. Di wilayah Tangerang Selatan, misalnya, harga eceran di tingkat pengecer masih berada di kisaran Rp22.000 per tabung, sementara Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp19.000 per tabung.
Daftar Harga LPG Non-Subsidi per 2 Juni 2026
Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB
- LPG 5,5 kg: Rp107.000
- LPG 12 kg: Rp228.000
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan
- LPG 5,5 kg: Rp111.000
- LPG 12 kg: Rp230.000
Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara
- LPG 5,5 kg: Rp114.000
- LPG 12 kg: Rp238.000
Tarakan, Kalimantan Utara
- LPG 5,5 kg: Rp124.000
- LPG 12 kg: Rp265.000
Ambon dan Jayapura
- LPG 5,5 kg: Rp134.000
- LPG 12 kg: Rp285.000
Kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam
- LPG 5,5 kg: Rp100.000
- LPG 12 kg: Rp208.000
Pemerintah Cari Pengganti LPG
Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah tengah mendorong sejumlah alternatif energi pengganti LPG, mulai dari pengembangan jaringan gas rumah tangga (Jargas), pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG), hingga proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Langkah tersebut diharapkan dapat menekan impor LPG, mengurangi beban subsidi energi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.***


Tinggalkan Balasan