Sejarah sering kali tidak ditulis oleh mereka yang paling banyak berbicara, melainkan oleh mereka yang bekerja dalam diam.
Sosok-sosok seperti itu hadir di tengah masyarakat bukan untuk mencari ketenaran, melainkan untuk mengabdikan hidupnya bagi umat.
Mereka menjadi penuntun ketika masyarakat kehilangan arah, menjadi penyejuk ketika konflik memanas, dan menjadi teladan ketika nilai-nilai kehidupan mulai memudar.
Di Purwakarta, khususnya di wilayah Wanayasa, nama KH. Adang Badruddin atau yang akrab disapa Abah Cipulus merupakan salah satu sosok yang menempati posisi istimewa dalam ingatan masyarakat.
Beliau bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang pendidik, penggerak ekonomi umat, pemimpin organisasi, tokoh masyarakat, dan pendamai yang dihormati berbagai kalangan.
Lahir pada 23 Juli 1948 di Pangkalan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Abah Cipulus tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan tradisi keilmuan Islam.
Sejak kecil, kehidupannya tidak jauh dari suasana pesantren, kitab kuning, dan perjuangan para ulama yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga agama.
Perjalanan hidup beliau berlangsung dalam berbagai fase penting. Mulai dari masa belajar sebagai santri, masa pengabdian di pesantren, perjuangan membangun lembaga pendidikan, kiprah dalam organisasi Nahdlatul Ulama, hingga peran beliau dalam menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
Bagi banyak orang, Abah Cipulus bukan sekadar tokoh agama. Beliau adalah tempat bertanya, tempat mengadu, tempat meminta nasihat, sekaligus tempat mencari jalan keluar ketika berbagai persoalan datang menghimpit.
Karena itu, kisah hidup beliau layak dicatat sebagai bagian dari sejarah sosial dan keagamaan Purwakarta.

Bagian I: Jejak Leluhur dan Sejarah Panjang Cipulus
Tidak ada pohon besar yang tumbuh tanpa akar yang kuat. Demikian pula dengan perjalanan hidup Abah Cipulus. Sosok beliau tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus yang telah berdiri sejak abad ke-19.
Pesantren ini dirintis pada tahun 1840 oleh KH. Ahmad yang lebih dikenal dengan sebutan Mama Emed.
Beliau merupakan murid kesayangan Syekh Baing Yusuf, seorang ulama berpengaruh pada zamannya.
Dalam perjalanan waktu, pesantren tersebut berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang disegani di Jawa Barat.
Generasi demi generasi ulama melanjutkan perjuangan para pendahulu. Estafet kepemimpinan dijaga dengan penuh amanah sehingga nilai-nilai keilmuan dan akhlak tetap terpelihara.
Ketika kepemimpinan pesantren berada di tangan Mama Ajengan Izzudin, hadir sosok Abah Cipulus sebagai bagian dari keluarga besar pesantren.
Hubungan beliau tidak hanya sebatas menantu, tetapi juga memiliki keterkaitan kekeluargaan yang erat dengan lingkungan pesantren.
Sejak muda, beliau menyaksikan bagaimana pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar agama.
Pesantren adalah pusat peradaban masyarakat.
Di sanalah pendidikan berlangsung, ekonomi umat bergerak, budaya terjaga, dan kehidupan sosial masyarakat menemukan arahnya.
Pemahaman inilah yang kemudian membentuk visi besar beliau saat memimpin pesantren di masa mendatang.
Bagian II: Menjadi Santri Seumur Hidup
Salah satu keistimewaan Abah Cipulus adalah kerendahan hatinya dalam menuntut ilmu.
Banyak orang yang ketika sudah memiliki jabatan tinggi merasa tidak perlu lagi belajar. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi beliau.
Meski telah menjadi pengasuh pesantren yang dihormati ribuan santri, beliau tetap menempatkan dirinya sebagai pencari ilmu.
Kesaksian para santri menunjukkan bahwa beliau sering duduk bersama para santri senior untuk mengkaji kitab-kitab klasik. Tidak ada sekat antara pemimpin dan murid ketika berbicara tentang ilmu.
Kitab-kitab besar seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali maupun Fathul Wahab terus beliau pelajari dan dalami.
Bagi beliau, ilmu tidak pernah memiliki garis akhir.
Beliau sering menyampaikan nasihat yang kemudian sangat dikenal di kalangan santri:
“Cing serius ngaji teh, ulah nepika kapiheulaan ku pangkat.”
Nasihat sederhana tersebut mengandung makna yang sangat dalam. Pangkat, jabatan, dan kedudukan dapat datang kapan saja. Namun kapasitas keilmuan harus terus dibangun sepanjang hayat.
Beliau tidak ingin melahirkan generasi yang hanya mengejar posisi. Beliau ingin melahirkan generasi yang memiliki kualitas keilmuan yang kuat sehingga mampu memikul amanah dengan baik.
Dalam pandangan beliau, ilmu adalah cahaya. Dan cahaya hanya akan menerangi jika terus dijaga.

Bagian III: Membangun Pesantren Menuju Era Baru
Tahun 2000 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup Abah Cipulus.
Pada masa itulah beliau mengemban amanah sebagai pemimpin Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus.
Kepemimpinan beliau berlangsung hingga tahun 2020.
Dua puluh tahun tersebut menjadi periode transformasi yang sangat penting bagi pesantren.
Di bawah kepemimpinan beliau, pesantren berkembang pesat menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Jawa Barat.
Perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dari bertambahnya jumlah santri, tetapi juga dari meningkatnya kualitas pendidikan, perluasan jaringan dakwah, dan penguatan peran sosial pesantren.
Beliau memahami bahwa pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Karena itu, tradisi salaf tetap dipertahankan, sementara berbagai pembaruan dilakukan agar pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat.
Bagi beliau, modernisasi tidak berarti meninggalkan tradisi. Modernisasi adalah memperkuat tradisi agar tetap relevan sepanjang masa.
Pandangan inilah yang menjadikan Cipulus tetap kokoh sebagai pesantren yang berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Bagian IV: Dakwah Melalui Pena
Tidak semua ulama mampu menulis. Tidak semua penulis mampu berdakwah. Namun Abah Cipulus mampu memadukan keduanya.
Beliau menyadari bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dari atas mimbar. Dakwah juga dapat dilakukan melalui tulisan.
Berbagai karya lahir dari tangan beliau.
Di antaranya adalah Aurad Jamaah Ibu-Ibu, Nadham Durusul Fiqhiyah, dan Pelajaran Bacaan Shalat Nganggo Ma’na Sunda.
Karya-karya tersebut menunjukkan perhatian beliau terhadap masyarakat awam.
Beliau memahami bahwa banyak orang ingin belajar agama tetapi kesulitan memahami istilah-istilah yang rumit.
Karena itu, beliau memilih pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami.
Bahasa Sunda digunakan sebagai jembatan agar ilmu agama lebih dekat dengan masyarakat.
Nadhoman yang beliau susun menjadi media pembelajaran yang efektif.
Hingga kini, sebagian karya beliau masih dibaca dan dilantunkan di berbagai masjid dan majelis taklim.
Melalui tulisan-tulisan tersebut, dakwah beliau terus hidup bahkan setelah beliau wafat.

Bagian V: Jawara yang Menyatukan
Di tanah Pasundan, istilah jawara memiliki makna yang khas.
Jawara bukan sekadar orang yang memiliki kemampuan bela diri. Jawara adalah sosok yang memiliki keberanian, pengaruh, dan tanggung jawab sosial.
Abah Cipulus dikenal sebagai salah satu tokoh yang dihormati kalangan jawara.
Beliau memiliki kemampuan silat yang baik. Namun kemampuan tersebut tidak pernah digunakan untuk mencari kekuasaan atau menunjukkan kehebatan diri.
Sebaliknya, kemampuan tersebut menjadi sarana untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat.
Ketika terjadi konflik antar-kelompok atau antar-kampung, banyak pihak yang memilih meminta bantuan beliau.
Dengan ketokohan yang dimiliki, beliau mampu mempertemukan pihak-pihak yang berselisih.
Beliau tidak datang membawa ancaman.
Beliau datang membawa nasihat.
Dengan bahasa yang santun dan penuh hikmah, beliau mengingatkan bahwa permusuhan hanya akan melahirkan kerugian.
Banyak konflik yang akhirnya mereda karena campur tangan beliau.
Kehadiran beliau menjadi simbol persatuan di tengah masyarakat.
Bagian VI: Kemandirian Sebagai Jalan Dakwah
Salah satu prinsip hidup yang selalu beliau pegang adalah menolak sikap bergantung kepada orang lain.
Beliau sering mengingatkan tentang bahaya sifat toma, yaitu terlalu berharap kepada pemberian orang lain.
Menurut beliau, seorang ulama harus menjaga kehormatan dirinya melalui kerja keras.
Karena itu, beliau aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi.
Perkebunan, peternakan, dan perdagangan menjadi bagian dari aktivitas keseharian beliau.
Beliau ingin menunjukkan bahwa agama dan kerja keras tidak dapat dipisahkan.
Kemandirian ekonomi adalah fondasi penting bagi kemandirian dakwah.
Dengan memiliki usaha sendiri, seorang ulama dapat berbicara lebih bebas demi kepentingan umat tanpa harus terikat oleh kepentingan pihak tertentu.
Prinsip tersebut tidak hanya beliau ajarkan, tetapi juga beliau praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian VII: Pemimpin yang Memanusiakan Manusia
Banyak orang mengenang Abah Cipulus bukan hanya karena ilmunya.
Mereka mengenang beliau karena akhlaknya.
Beliau dikenal sangat menghormati orang-orang yang bekerja bersamanya.
Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah kebiasaan beliau yang tidak mau makan terlebih dahulu sebelum sopir dan pengawalnya ikut makan.
Bahkan mereka duduk di meja yang sama.
Bagi beliau, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jabatan.
Setiap orang memiliki kehormatan yang harus dihargai.
Nilai inilah yang membuat banyak orang merasa dekat dengan beliau.
Kehadiran beliau menghadirkan rasa nyaman bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya.
Bagian VIII: Pengabdian untuk Nahdlatul Ulama
Kecintaan Abah Cipulus kepada Nahdlatul Ulama merupakan bagian penting dari perjalanan hidup beliau.
Beliau pernah mengemban amanah sebagai Rais PCNU Purwakarta.
Beliau juga dipercaya menjadi Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jawa Barat.
Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menegaskan pentingnya menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Beliau memahami bahwa NU bukan sekadar organisasi.
NU adalah wadah perjuangan para ulama untuk menjaga agama, bangsa, dan masyarakat.
Karena itu, beliau mendorong lahirnya berbagai program yang memperkuat posisi para guru ngaji dan ulama kampung.
Salah satunya adalah pembentukan Forum Silaturahmi Guru Ngaji.
Melalui forum tersebut, para guru ngaji memiliki ruang untuk saling menguatkan dan memperjuangkan kepentingan umat.

Bagian IX: Tahun-Tahun Terakhir Pengabdian
Menjelang akhir hayatnya, aktivitas Abah Cipulus tidak banyak berubah.
Beliau tetap menerima tamu.
Beliau tetap mengajar.
Beliau tetap memberikan nasihat kepada masyarakat.
Semangat pengabdian yang dimiliki beliau seolah tidak pernah berkurang.
Meski usia terus bertambah, perhatian beliau terhadap pesantren dan umat tetap sama.
Beliau terus memastikan bahwa generasi penerus mampu melanjutkan perjuangan yang telah dirintis para pendahulu.
Bagi beliau, keberhasilan seorang pemimpin bukan terletak pada apa yang dibangun selama hidupnya, tetapi pada siapa yang mampu melanjutkan perjuangannya setelah ia tiada.
Epilog: Warisan yang Tidak Pernah Padam
Pada tanggal 3 Agustus 2020, masyarakat kehilangan salah satu tokoh terbaiknya.
Abah Cipulus berpulang ke hadirat Allah SWT.
Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, sahabat, dan masyarakat luas.
Namun warisan beliau tidak ikut pergi.
Warisan itu hidup dalam setiap santri yang terus mengaji.
Warisan itu hidup dalam setiap majelis taklim yang terus berjalan.
Warisan itu hidup dalam setiap nadhoman yang masih dilantunkan.
Warisan itu hidup dalam setiap nilai keikhlasan, kemandirian, dan pengabdian yang beliau tanamkan.
KH. Adang Badruddin telah menyelesaikan tugasnya di dunia.
Tetapi api perjuangan yang beliau nyalakan masih terus menyala hingga hari ini.
Dan selama nilai-nilai yang beliau ajarkan terus dijaga, nama Abah Cipulus akan tetap hidup dalam ingatan umat, menjadi cahaya yang menerangi jalan generasi-generasi berikutnya.
Oleh: Redaksi Gugah.co
Disclaimer: Artikel ini merupakan opini, bukan karya jurnalistik Gugah.co. Kolom Suara Pinggiran menjadi wadah bagi akademisi, aktivis, dan analis untuk menyuarakan gagasan bebas.


Tinggalkan Balasan