BANDUNG — Di tengah keprihatinan atas rendahnya kualitas literasi dan polarisasi sosial di Indonesia, sebuah langkah konkret diambil oleh generasi muda di Bandung.
Sebanyak 20 mahasiswa dan aktivis muda dari berbagai latar belakang budaya serta keyakinan digembleng dalam Kelas Pemikiran Gus Dur di Gedung JQH PWNU Jawa Barat pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Bukan sekadar ruang kelas biasa, forum ini dirancang sebagai laboratorium sosial untuk merombak cara pandang anak muda, terutama para mahasiswa rantau, yang terbiasa hidup dalam lingkungan monokultural di daerah asal mereka.
Bagi mayoritas peserta yang berstatus mahasiswa baru, berpindah ke kota besar seperti Bandung membawa gegar budaya tersendiri.
Kelas Pemikiran Gus Dur hadir untuk menjembatani transisi tersebut dengan membumikan nilai-nilai pluralisme, kemanusiaan, dan keadilan sosial yang diwariskan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Pembina Gusdurian Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Gofiqi atau Kiyai Maqo, menegaskan bahwa anak muda tidak akan bisa membawa perubahan jika masih terjebak dalam zona nyaman kelompoknya sendiri.
Menurutnya, anak muda harus bisa belajar dan berani untuk keluar dari kotak sendiri. Maksud kotak ini adalah lingkungan yang sifatnya masih monokultural, yang belum menyentuh perbedaan latar belakang budaya, pemikiran, dan keyakinan.
“Maksud kotak ini adalah lingkungan sendiri yang sifatnya masih monokultural dan tidak ada perbedaan latar belakang budaya, pemikiran, keyakinan dan lain-lain.” kata Kyai Maqo.
Selain adaptasi terhadap keberagaman, tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah kapasitas intelektual. Tokoh Pemuda Ansor Jawa Barat, Deni Ahmad Haedar, dalam refleksinya menggarisbawahi bahwa kemajuan sebuah negara sangat bergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia, yang fondasinya adalah literasi.
Deni membandingkan dinamika sejarah global, seperti Revolusi Rusia dan Cina, di mana para pemikir dan Guru Bangsa menempati posisi sentral dalam mengarahkan peradaban. Sebaliknya, ia mengkritik realitas di Indonesia di mana arah bangsa sering kali ditentukan oleh politisi yang minim kompetensi.
Penguatan literasi melalui kelas pemikiran seperti ini menjadi krusial agar pemuda tidak hanya menjadi objek politik, melainkan subjek perubahan yang kritis.
Kehadiran Wahyuni Della sebagai fasilitator langsung dari Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian mempertegas bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas tahunan, melainkan investasi serius dalam mencetak penggerak sosial di tingkat tapak.
Melalui kelas ini, dampak yang ingin dicapai mencakup pembukaan ruang belajar inklusif untuk mengikis eksklusivisme kelompok, peningkatan kapasitas nalar kritis berbasis literasi untuk merespons isu kemanusiaan, serta akselerasi lahirnya penggerak muda yang siap terjun ke masyarakat dengan semangat toleransi.
Bagi para peserta, kelas ini menjadi oase di tengah situasi sosial-politik nasional yang dinilai sedang mengalami kemunduran.
Jamiludin, salah satu kader Gusdurian Bandung, menuturkan bahwa arahan dari para senior menjadi pemantik semangat untuk generasi muda yang ingin merawat pemikiran Gus Dur di tengah kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja.***



Tinggalkan Balasan