Ledakan Tambang Batu Bara di China Tewaskan 82 Orang, Tim SAR Buru Korban Hilang

Tim SAR di China utara melakukan operasi besar-besaran untuk mencari korban selamat di area lubang galian.

Petugas gabungan menyisir lokasi untuk menemukan dua orang pekerja yang hingga kini statusnya masih dinyatakan hilang.

Insiden maut berupa ledakan gas tersebut melanda sebuah kawasan tambang batu bara pada akhir pekan ini.

Pemerintah China mengonfirmasi peristiwa mengerikan itu telah merenggut puluhan nyawa buruh bawah tanah di sana.

Otoritas berwenang mengeluarkan data resmi terkini mengenai jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan kerja tersebut.

Pemerintah China menyatakan 82 orang tewas dalam musibah yang melanda area industri pertambangan batubara itu.

Pernyataan terbaru dari pihak administrasi pusat ini sekaligus merevisi rilis data yang beredar di media sebelumnya.

Laporan awal dari sejumlah kantor berita lokal sempat menyebutkan jumlah korban jiwa sedikitnya mencapai 90 orang.

Ledakan hebat melanda lubang tambang Liushenyu di provinsi Shanxi pada hari Jumat waktu setempat.

Kecelakaan terjadi saat 247 orang pekerja sedang berada di dalam terowongan bawah tanah tersebut.

Media pemerintah China menyebut insiden murni ini sebagai bencana pertambangan terburuk dalam hampir dua dekade.

Baca Juga:  Lima WNI Disandera Israel, Empat Relawan Indonesia Masih Berlayar Bersama GSF

Ratusan petugas penyelamat langsung bergegas menuju lokasi kejadian perkara tak lama setelah ledakan gas pecah.

Iring-iringan mobil ambulans bergerak cepat mengangkut para korban luka menuju ke pusat layanan kesehatan terdekat.

Tim medis membawa 128 orang ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan darurat secara intensif.

Proses evakuasi dari dalam lubang galian yang gelap gulita berlangsung dramatis menggunakan tandu darurat petugas.

Aparat kepolisian langsung memblokir total jalan utama menuju tambang guna mengamankan jalur kendaraan taktis penyelamat.

Para petugas penyelamat yang mengenakan helm bergantian turun ke lubang tambang sepanjang malam hari.

Tim SAR terus berikhtiar mencari keberadaan dua pekerja yang hingga kini belum berhasil ditemukan posisinya.

Petugas juga mengirim robot khusus untuk menyelidiki kondisi stabilitas udara serta struktur di dalam tambang.

Upaya pencarian bawah tanah ini menghadapi risiko tinggi akibat potensi sisa gas beracun yang mematikan.

“Selama masih ada harapan, kami akan melakukan segala upaya,” kata seorang petugas penyelamat kepada kantor berita pemerintah Xinhua.

Pemerintah setempat langsung meluncurkan tim investigasi khusus untuk mengusut tuntas penyebab utama ledakan gas tersebut.

Baca Juga:  Kedatangan Aktivis GSF di Bilbao Diwarnai Kericuhan, Massa dan Polisi Terlibat Bentrok

Kasus ini menjadi catatan kecelakaan tambang terburuk setelah insiden serupa di Heilongjiang pada tahun 2009.

Temuan awal tim penyidik mendeteksi adanya indikasi kelalaian besar dari pihak manajemen perusahaan pengelola.

Operator tambang, Shanxi Tongzhou Group, terindikasi kuat melakukan pelanggaran hukum berat terkait prosedur keselamatan kerja.

“Mereka yang terbukti bertanggung jawab akan dihukum berat sesuai dengan hukum dan peraturan,” tambah mereka.

Pihak berwenang mengungkap fakta mencengangkan mengenai sistem administrasi ketenagakerjaan di area perusahaan tambang tersebut.

Lebih dari setengah pekerja di dalam lubang tambang pada hari Jumat turun tanpa terdaftar dengan benar.

Manajemen mengabaikan protokol wajib pemeriksaan pengenalan wajah atau kartu pelacak lokasi bagi setiap penambang bawah tanah.

Polisi kini menahan pimpinan operasional perusahaan guna menjalani pemeriksaan hukum lebih lanjut atas kelalaian massal ini.

Salah satu korban selamat yang mengalami luka-luka, Wang Yong, menceritakan detik-detik mencekam saat kejadian.

Wang mengaku tidak mendengar dentuman suara apa pun saat peristiwa ledakan gas batubara itu terjadi.

Namun, ia mendadak melihat kepulan asap tebal dan mencium bau belerang yang sangat menyengat di sekitarnya.

Penambang tersebut langsung berteriak meminta rekan-rekannya untuk segera berlari menyelamatkan diri sebelum akhirnya ia pingsan.

Baca Juga:  Trump Ancam Iran Bakal Hadapi Situasi Sangat Buruk Jika Negosiasi Nuklir Berakhir Buntu

“Saya sama sekali tidak mendengar suara apa pun, tetapi kemudian muncul kepulan asap,” kata penambang itu.

“Baunya seperti belerang, seperti ketika orang menyalakan petasan. Ketika asap turun, saya berteriak agar orang-orang berlari,” ujar dia.

Wang Yong mengingat momen memilukan saat melihat para pekerja lain tersedak asap pekat di dalam terowongan.

Kondisi minim oksigen dan paparan asap tebal membuat banyak buruh tambang kehilangan kesadaran secara mendadak.

Wang baru tersadar dari pingsan setelah terkapar di lantai tambang selama lebih dari satu jam.

Ia kemudian membangunkan seorang rekan di sebelahnya, lalu merangkak bersama-sama mencari jalan keluar terowongan.

Provinsi Shanxi merupakan salah satu daerah miskin yang menjadi pusat industri pertambangan batubara di China.

Meskipun sistem keselamatan tambang menunjukkan peningkatan, kecelakaan maut terbukti masih sering terjadi di negara tersebut.

Banyak perusahaan lokal dinilai kerap melonggarkan protokol regulasi demi mengejar target produksi komoditas secara instan.

China sendiri tercatat sebagai negara konsumen batubara terbesar sekaligus penghasil emisi gas rumah kaca dunia.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran