JAKARTA – Kabar duka datang dari pelaksanaan ibadah haji tanah suci pada akhir pekan ini.
Seorang jemaah haji asal Kabupaten Tasikmalaya dilaporkan meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji.
Jemaah bernama Wahdi Sahri tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Pihak Kemenhaj mengonfirmasi bahwa almarhum wafat karena mengalami sakit saat mengikuti rangkaian ibadah.
Almarhum tercatat sebagai warga Desa Cibeber, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Dalam keberangkatan tahun ini, Wahdi Sahri tergabung ke dalam kelompok terbang Kloter 11 KJT.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Tasikmalaya, Iin Ufairoh, membenarkan informasi mengenai wafatnya jemaah tersebut.
Pihak kementerian langsung bergerak cepat melakukan pendataan pascamenerima laporan resmi dari tanah suci.
“Benar, atas nama Wahdi Sahri, kloter 11 KJT,” katanya, Sabtu (23/5/2026).
Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Tasikmalaya kini terus intensif melakukan koordinasi dengan pihak-pihak berwenang.
Komunikasi terjalin erat dengan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang berada di Arab Saudi.
Upaya ini dilakukan guna memastikan kelancaran seluruh proses administrasi serta pemulasaran jenazah almarhum.
Petugas menjamin seluruh proses pemakaman akan dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Arab Saudi.
Pihak kementerian juga sudah berkomunikasi langsung dengan pihak keluarga almarhum di Tasikmalaya.
Petugas menyampaikan kabar duka ini sekaligus memberikan pendampingan psikologis serta pengurusan administrasi lanjutan.
Sementara itu, pihak keluarga mengaku sangat kaget saat pertama kali mendengar kabar duka tersebut.
Meski demikian, seluruh anggota keluarga menyatakan ikhlas dan bersiap menggelar doa bersama untuk mendoakan almarhum.
“Semoga almarhum diterima amal ibadahnya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Kami turut berduka cita,” kata Ufairoh.
Menyikapi peristiwa ini, Iin Ufairoh mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh jemaah yang masih bertugas.
Jemaah haji wajib memprioritaskan perlindungan kesehatan fisik selama menjalani sisa rangkaian ibadah keagamaan.
Kemenhaj turut meminta kelompok bimbingan (KBIH) untuk menggelar doa bersama bagi keselamatan jemaah.
Kedisplinan dalam menjaga kondisi tubuh menjadi faktor penentu utama kelancaran ibadah di tengah cuaca ekstrem.
“Kesehatan adalah prioritas utama agar ibadah berjalan lancar,” katanya.***



Tinggalkan Balasan