Jutaan Warga Gaza Terancam Hadapi Musim Dingin di Tengah Kerusakan Tenda dan Krisis Bantuan

|

GUGAH – Jutaan warga Palestina di Jalur Gaza menghadapi ancaman musim dingin dengan kondisi tempat pengungsian yang semakin memburuk. Setelah bertahun-tahun dilanda perang dan pengungsian berulang, banyak keluarga kini bertahan di tenda rusak yang tidak memadai untuk menghadapi hujan, banjir, dan suhu dingin.

Koordinator Krisis Regional Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) untuk respons Gaza, Karl Baker, mengatakan sebagian warga Palestina telah mengalami pengungsian hingga delapan kali. Perpindahan berulang membuat tenda, perlengkapan rumah tangga, dan tempat berlindung sementara lainnya rusak, bahkan hancur.

“Ketika mereka berpindah, barang-barang yang masih mereka miliki bisa hancur, atau mereka harus mencari tempat berlindung baru,” kata Baker kepada UN News, Jumat, 16 Oktober 2026.

Menurut Baker, material dasar untuk melindungi warga dari cuaca, seperti terpal, perlu diganti secara berkala, sekitar setiap enam bulan. Namun, lembaga kemanusiaan menghadapi kesulitan mendatangkan material pengganti ke Gaza dalam jumlah yang mencukupi.

Situasi tersebut memperbesar risiko bagi keluarga yang telah kehilangan rumah dan harus berulang kali berpindah tempat. Ketika hujan mulai turun, tenda yang rusak tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga membatasi perlindungan warga dari cuaca ekstrem.

Pembatasan Material Hambat Pembangunan Hunian Lebih Layak

Baker menilai bantuan kemanusiaan perlu bergerak melampaui penyediaan tenda darurat menuju hunian transisi yang lebih kuat dan tahan lama. Kebutuhan tersebut mencakup material atap, lantai beton, dinding yang lebih kokoh, serta perlengkapan untuk memperbaiki tempat tinggal yang rusak.

Baca Juga:  AS Pertimbangkan Bom MOAB, Iran Ancam Balas dengan “Bapaknya Rudal”

Namun, upaya tersebut masih terkendala pembatasan masuknya sejumlah material oleh otoritas Israel. Sebagian barang dikategorikan memiliki potensi penggunaan ganda atau dual-use karena alasan keamanan.

“Setelah tiga tahun perang, kita perlu meningkatkan kualitas tempat penampungan di sana dan beralih dari hunian sementara menuju hunian transisi,” ujar Baker.

Ia mengatakan IOM terus berkomunikasi dengan otoritas Israel untuk mengupayakan masuknya bantuan. Meski demikian, sejumlah material yang dibutuhkan untuk membangun tempat berlindung lebih layak masih belum dapat masuk ke Gaza.

Dalam pernyataan terpisah pada awal Oktober, IOM juga menyebut sekitar 8.600 paket perlengkapan hunian darurat yang telah disiapkan di luar Gaza berulang kali belum memperoleh izin masuk. Paket tersebut berisi material dasar yang diperlukan untuk membangun tempat berlindung sementara.

Persediaan Bantuan Baru Mencakup 17 Persen Kebutuhan

Selain pembatasan material, keterbatasan pendanaan dan gangguan jalur pengiriman internasional turut memperlambat persiapan menghadapi musim dingin. IOM mengandalkan pemasok dari sejumlah negara, termasuk Tiongkok, India, dan Pakistan, untuk memenuhi kebutuhan bantuan hunian bagi warga Gaza.

Baker mengatakan pendanaan mulai tersedia, tetapi jumlahnya belum memadai untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,8 juta hingga 1,9 juta orang yang memerlukan bantuan tempat tinggal.

Sebelumnya, IOM melaporkan bahwa persediaan bantuan yang tersedia dan pasokan yang sedang dalam perjalanan baru mampu mencakup sekitar 17 persen dari kebutuhan hunian khusus musim dingin di Gaza. Data IOM yang dipublikasikan pada 9 Oktober juga menyebut lebih dari separuh tenda dan tempat penampungan darurat berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk sehingga membutuhkan penggantian.

Baca Juga:  Krisis Kesehatan Memburuk di Gaza, Pasien Jantung Terancam Kehilangan Nyawa

Kesenjangan tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan yang belum terpenuhi ketika hujan mulai turun. Tanpa tambahan pasokan dan dukungan pendanaan yang memadai, banyak keluarga berisiko menjalani musim dingin dengan perlindungan yang jauh dari layak.

Pengungsian Padat dan Ancaman Banjir

Baker juga menyoroti terbatasnya wilayah Gaza yang dapat diakses oleh sebagian besar penduduk. Kondisi tersebut memaksa warga yang kehilangan tempat tinggal berkumpul di kawasan yang semakin padat, termasuk lokasi-lokasi yang rawan banjir.

“Area yang saat ini mereka tempati merupakan sebuah kamp pengungsian yang sangat besar,” kata Baker, menggambarkan tekanan terhadap ruang hidup warga.

Laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada 15 Oktober 2026 turut menggambarkan besarnya risiko tersebut. Sekitar 950.000 warga yang mengungsi diperkirakan tinggal di lokasi dengan risiko banjir menengah hingga tinggi, termasuk lebih dari 400.000 orang di kawasan berisiko tinggi.

Organisasi kemanusiaan kini berupaya mengurangi dampak banjir dengan menangani titik-titik rawan, memperbaiki drainase, serta menyiapkan langkah mitigasi, termasuk penggunaan pompa air. Namun, keterbatasan material, alat berat, dan lahan yang aman membuat persiapan menghadapi musim hujan belum dapat menjangkau seluruh kebutuhan.

Baca Juga:  Musim Panas Memperparah Krisis: Penyakit Kulit Menyebar di Kamp Pengungsi Gaza

Baker memperingatkan bahwa musim dingin akan menjadi ujian berat bagi warga yang tinggal di tenda dan tempat penampungan darurat. Hujan lebat, genangan, dan suhu yang lebih rendah dapat memperburuk kondisi kehidupan mereka jika bantuan tidak segera ditingkatkan.

Gencatan Senjata Belum Mengakhiri Krisis Kemanusiaan

Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 belum mengakhiri seluruh persoalan kemanusiaan di Gaza. Dalam laporan situasi yang diterbitkan 15 Oktober 2026, OCHA menyebut serangan udara, penembakan, dan tembakan masih dilaporkan menimbulkan korban sipil, sementara pembongkaran bangunan dan perubahan situasi di lapangan memicu kekhawatiran akan pengungsian lanjutan.

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan tempat tinggal yang aman menjadi semakin mendesak. Bantuan berupa tenda tetap diperlukan, tetapi lembaga kemanusiaan menilai penyediaan material yang lebih kuat juga penting untuk mengurangi risiko kerusakan dan pengungsian berulang.

Bagi jutaan warga Palestina yang kehilangan rumah, musim dingin bukan sekadar pergantian cuaca. Hujan dan banjir dapat menjadi ancaman tambahan bagi keluarga yang masih bertahan di tempat penampungan seadanya.

IOM pun menekankan pentingnya akses bantuan yang berkelanjutan agar material hunian dapat masuk dalam jumlah memadai. Tanpa langkah tersebut, warga Gaza berisiko kembali menghadapi musim dingin dengan perlindungan yang tidak sebanding dengan kebutuhan mereka.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran